Adalah agenda tahunan yang selalu ada disetiap menjelang hari raya Idul Fitri alias Lebaran, adalah banyak bertebaran para penjaja jasa penukaran uang baru. Hampir disemua kota ada yang beginian ini. Selama saya tinggal di Kota Solo, Disepanjang jalan Slamet Riyadi mulai dari kawasan Sriwedari hingga Gladak serta di Jalan Sudirman dari depan Kantor Pos hingga depan Balai Kota dan juga disepanjang Jalan Adi Sucipto dari kawasan Manahan hingga Jajar banyak money changer jalanan tersebut. Dan selama saya tinggal di Magelang, saya belum pernah menemui hal seperti ini. Belum banyak mereka yang menggelar jasa maupun dagangan uang baru tersebut di jalanan. Saya sempat bertanya ke beberapa tetangga karena di Magelang memang belum menganggap bahwa memberikan angpao Lebaran harus dengan uang baru. Memang beda daerah beda adat dan budaya. Di Solo hal tersebut telah menjadi budaya dan punya nilai prestisius yang lebih jika ngasih angpao dengan uang baru, sementara di Magelang masih belum.
Di Magelang terdapat gunung atau bukit yang tingginya sekitar 600 m dpl, dan berada di tengah kota. Itulah Gunung Tidar. Asal muasal nama Tidar sendiri masih banyak versi. Ada salah satu versi yang menyebutkan bahwa nama itu berasal dari kata “Mati dan Modar”. Jadi karena angkernya Gunung Tidar waktu dulu, maka kalau ada orang mendatangi gunung tersebut kalau tidak Mati ya Modar. Cerita legenda keangkeran Gunung Tidar dapat disimak dalam Hikayat Gunung Tidar ini. 25 Juli 2010, 15 (lima belas) manusia yang tergabung dalam Komunitas Pendekar Tidar menapaki jalur pendakian Gunung Tidar dari pintu pendakian di kawasan Magersari belakang terminal lama Magelang. Kelima belas Bala Tidar tersebut adalah Mas Aviv, Mas Hanafi, Mas Yudha, Mas Yudo, Mas Kukuh, Restu, Mas Arif, Pak Soli, Pak Singgih, Temannya Pak Singgih, Mas Deden, Mbak Susi, Mbak Emi, Mas Ikhwan dan Bang Ciwir Jalan setapak yang sudah dipaving ternyata masih saja membuat kaki saya berat diangkat melangkah karena
Candi Borobudur memang sudah kondang kaloka sak nuswantoro lan monconagoro. Sebuah candi yang berdiri di kawasan yang sekarang ini masuk dalam wilayah administratif Kecamatan Borobudur Kab Magelang Jawa Tengah, adalah sebuah bangunan suci agama Budha yang dibangun pada masa Mataram Kuno dibawah pemerintahan Dinasti Syailendra. Berdasarkan tulisan yang terdapat pada “kaki” tertutup dari Candi Borobudur yang berbentuk huruf Jawa kuno yang berasal dari huruf pallawa, diperkirakan tahun berdirinya candi tersebut pada tahun 850 Masehi. Namun ternyata dibalik Keajaiban dan kemegahan Candi Borobudur ada beberapa hal yang menurut saya cukup tragis bagi wong Magelang. Dan selama ini mungkin hal-hal tersebut sudah banyak diketahui khalayak umum secara luas, atau mungkin juga belum banyak yang tahu. Hal-hal tersebut antara lain adalah : (1) Banyak wong Magelang yang belum pernah masuk ke kawasan Candi Borobudur tersebut. Dari beberapa kali ngobrol-ngobrol, kebanyakan mereka menyebutkan