<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>kaum biasa &#187; Family</title>
	<atom:link href="http://kaumbiasa.com/category/family/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kaumbiasa.com</link>
	<description>tansah migunani marang wong liya</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Feb 2012 08:00:11 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Kayana Putri Az-Zahirul Haq</title>
		<link>http://kaumbiasa.com/kayana-putri-az-zahirul-haq.php</link>
		<comments>http://kaumbiasa.com/kayana-putri-az-zahirul-haq.php#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Oct 2010 15:54:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ciwir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Family]]></category>
		<category><![CDATA[Kayana Putri Az-Zahirul Haq]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kaumbiasa.com/?p=2003</guid>
		<description><![CDATA[<p>Minggu, 17 Oktober 2010 tepat bersamaan dengan kumandang adzan Maghrib, di sebuah Rumah Bersalin di kawasan njero mbeteng Kraton Surakarta Hadiningrat, seorang bayi perempuan lahir. Bayi perempuan dengan berat 3,2 Kg dan panjang 48 cm itu adalah puteri ke-2 seorang kaumbiasa ini. Sujud syukur kehadirat Gusti ALLAH SWT Sang Maha Segalanya, penantian panjang selama 9 bulan lebih 12 hari akhirnya usai sudah.
Berbeda dengan anak pertama saya, Rama Maheswara Az-Zahirul Haq, yang pada hari 3 sudah diberi nama, puteri ke-2 saya ini baru saya kasih nama pada hari 5 dia terlahir di dunia ini. Bukan apa-apa sih, sebab selain rada bingung mau ngasih nama siapa,  juga adat di Solo beda dengan di Bojonegoro. Di Bojonegoro adatnya adalah bayi harus sudah dinamai tiga hari setelah kelahirannya, sementara di Solo adatnya beda, bayi dinamai biasanya setelah sepasar atau lima hari.
Setelah bermeditasi sejenak akhirnya saya dan isteri saya sepakat memberinya nama Kayana Putri Az-Zahirul Haq. Sebuah</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Minggu, 17 Oktober 2010 tepat bersamaan dengan kumandang adzan Maghrib, di sebuah Rumah Bersalin di kawasan njero mbeteng Kraton Surakarta Hadiningrat, seorang bayi perempuan lahir. Bayi perempuan dengan berat 3,2 Kg dan panjang 48 cm itu adalah puteri ke-2 seorang kaumbiasa ini. Sujud syukur kehadirat Gusti ALLAH SWT Sang Maha Segalanya, penantian panjang selama 9 bulan lebih 12 hari akhirnya usai sudah.
Berbeda dengan anak pertama saya, Rama Maheswara Az-Zahirul Haq, yang pada hari 3 sudah diberi nama, puteri ke-2 saya ini baru saya kasih nama pada hari 5 dia terlahir di dunia ini. Bukan apa-apa sih, sebab selain rada bingung mau ngasih nama siapa,  juga adat di Solo beda dengan di Bojonegoro. Di Bojonegoro adatnya adalah bayi harus sudah dinamai tiga hari setelah kelahirannya, sementara di Solo adatnya beda, bayi dinamai biasanya setelah sepasar atau lima hari.
Setelah bermeditasi sejenak akhirnya saya dan isteri saya sepakat memberinya nama Kayana Putri Az-Zahirul Haq. Sebuah</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kaumbiasa.com/kayana-putri-az-zahirul-haq.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>91</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rama dolan Masjid Agung Magelang</title>
		<link>http://kaumbiasa.com/masjid-agung-magelang.php</link>
		<comments>http://kaumbiasa.com/masjid-agung-magelang.php#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Jun 2010 07:30:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ciwir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Family]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Kerajaan Demak]]></category>
		<category><![CDATA[Masjid Agung Magelang]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Masjid Agung Magelang]]></category>
		<category><![CDATA[Tata Kota Kerajaan Demak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kaumbiasa.com/?p=1743</guid>
		<description><![CDATA[<p>Dimanapun kota-kota di Indonesia, tata kotanya selalu memilki alun-alun dengan masjid agung di sebelah baratnya, tak terkecuali Kota Magelang, sebuah kota yang telah berusia 1104 tahun. Tata kota demikian adalah model tata kota praja yang diadopsi dari tata kota praja Kerajaan Demak, bahwa alun-alun adalah perlambang pusat cakrawala dunia.
Sebagaimana pakem arsitektur tata kota praja yang diadopsi dari jaman Demak, bahwa Masjid Agung selalu berada di sebelah barat. Demikian pula dengan Masjid Agung Magelang, terletak di sebelah barat Alun-alun Kota. Masjid ini dibangun pada tahun 1894 atas prakarsa Sajid Alwi bin Achmad Danuningrat, Bupati Magelang I, dan dinamai dengan Masjid Jami&#8217; Magelang. Masjid Agung Magelang beberapa kali dilakukan pemugaran, diantaranya adalah pada tahun 1932 dilakukan penambahan bangunan serambi kanan kiri dan bagian depan. Kemudian pada tahun 1980/1981 dilakukan perluasan serambi
Sebagaimana pakem masjid agung jaman kerajaan Demak, Masjid Agung</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dimanapun kota-kota di Indonesia, tata kotanya selalu memilki alun-alun dengan masjid agung di sebelah baratnya, tak terkecuali Kota Magelang, sebuah kota yang telah berusia 1104 tahun. Tata kota demikian adalah model tata kota praja yang diadopsi dari tata kota praja Kerajaan Demak, bahwa alun-alun adalah perlambang pusat cakrawala dunia.
Sebagaimana pakem arsitektur tata kota praja yang diadopsi dari jaman Demak, bahwa Masjid Agung selalu berada di sebelah barat. Demikian pula dengan Masjid Agung Magelang, terletak di sebelah barat Alun-alun Kota. Masjid ini dibangun pada tahun 1894 atas prakarsa Sajid Alwi bin Achmad Danuningrat, Bupati Magelang I, dan dinamai dengan Masjid Jami&#8217; Magelang. Masjid Agung Magelang beberapa kali dilakukan pemugaran, diantaranya adalah pada tahun 1932 dilakukan penambahan bangunan serambi kanan kiri dan bagian depan. Kemudian pada tahun 1980/1981 dilakukan perluasan serambi
Sebagaimana pakem masjid agung jaman kerajaan Demak, Masjid Agung</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kaumbiasa.com/masjid-agung-magelang.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>51</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menu Harian Rama</title>
		<link>http://kaumbiasa.com/menu-harian-rama.php</link>
		<comments>http://kaumbiasa.com/menu-harian-rama.php#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Mar 2010 06:26:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ciwir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Family]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Makanan Sehat untuk Bayi]]></category>
		<category><![CDATA[Membuat Bubur untuk Bayi]]></category>
		<category><![CDATA[Rama Maheswara Az Zahirul haq]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kaumbiasa.com/?p=1420</guid>
		<description><![CDATA[<p>Jika pada usia 6 bulan Rama hanya mengonsumsi makanan berupa bubur yg lembut selain ASI, maka mulai Rama berusia 8 bulan telah mulai mengonsumsi bubur &#8220;kasar&#8221;. Sebagaimana waktu masih makan bubur halus, dalam mengonsumsi bubur kasar tersebut adalah made in istri saya sendiri. Dari dulu memang tidak pernah dikasih makanan instan, biar aman kata istri saya.
Bubur yang menjadi menu sehari-hari mas Rama saat ini bahan dasar beras dengan diberikan kaldu ayam/sapi ditambah dengan sayuran dan sedikit buah-buahan. Berikut ini saya akan mencoba sedikit berbagi proses pembuatannya, siapa tahu berguna dan bermanfaat bagi sampeyan-sampeyan semua.
Sebenarnya pembuatannya sangat mudah dan tidak butuh waktu lama serta biaya yang murah. Pertama-tama menyiapkan bahan kaldunya, dapat dari ceker ayam kampung atau balungan sapi yang dipotong dan sedikit ditumbuk atau orang Jawa bilang digecek agar sumsumnya dapat keluar sewaktu direbus. Kedua, rebus bahan kaldu tersebut dalam air hingga</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jika pada usia 6 bulan Rama hanya mengonsumsi makanan berupa bubur yg lembut selain ASI, maka mulai Rama berusia 8 bulan telah mulai mengonsumsi bubur &#8220;kasar&#8221;. Sebagaimana waktu masih makan bubur halus, dalam mengonsumsi bubur kasar tersebut adalah made in istri saya sendiri. Dari dulu memang tidak pernah dikasih makanan instan, biar aman kata istri saya.
Bubur yang menjadi menu sehari-hari mas Rama saat ini bahan dasar beras dengan diberikan kaldu ayam/sapi ditambah dengan sayuran dan sedikit buah-buahan. Berikut ini saya akan mencoba sedikit berbagi proses pembuatannya, siapa tahu berguna dan bermanfaat bagi sampeyan-sampeyan semua.
Sebenarnya pembuatannya sangat mudah dan tidak butuh waktu lama serta biaya yang murah. Pertama-tama menyiapkan bahan kaldunya, dapat dari ceker ayam kampung atau balungan sapi yang dipotong dan sedikit ditumbuk atau orang Jawa bilang digecek agar sumsumnya dapat keluar sewaktu direbus. Kedua, rebus bahan kaldu tersebut dalam air hingga</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kaumbiasa.com/menu-harian-rama.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>36</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ibu</title>
		<link>http://kaumbiasa.com/ibu.php</link>
		<comments>http://kaumbiasa.com/ibu.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Dec 2009 03:22:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ciwir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Family]]></category>
		<category><![CDATA[hari ibu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kaumbiasa.com/?p=1052</guid>
		<description><![CDATA[<p>Ibu adalah yang membuat kita menjadi ada. Ibu yang membuat kita menjadi seperti ini sekarang ini. Kasih sayang seorang ibu adalah kasih sayang yang abadi. Kasih sayang yang tulus dan ikhlas dalam membesarkan kita anak-anaknya tanpa pamrih apapun. Mendidik tak kenal lelah dan mengajari segala hal tak kenal menyerah.
Segala penderitaannya adalah demi kita anaknya. Sejak di dalam kandungan hingga dewasa ibu selalu menjadi penjaga dan pembimbing kita. Pendidikan yang pertama kita dapatkan adalah pendidikan dari ibu. Pelajaran dan ilmu yang kita peroleh juga dari beliau. Kita bisa lancar berbicara karena bimbingan beliau, kita paham benda dan lingkungan sekitar kita berkat beliau dan kita bisa jadi seperti sekarang adalah karena beliau. Namun, terkadang kita anak-anaknya ini seolah tak memperdulikannya. Kasih sayangnya seakan dibalas dengan perbuatan yang menyakitinya.
Tuhan pun demikian menghargai makhluknya yang bernama &#8220;ibu&#8221; ini. Derajatnya sangat dimuliakan-Nya. Surga</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ibu adalah yang membuat kita menjadi ada. Ibu yang membuat kita menjadi seperti ini sekarang ini. Kasih sayang seorang ibu adalah kasih sayang yang abadi. Kasih sayang yang tulus dan ikhlas dalam membesarkan kita anak-anaknya tanpa pamrih apapun. Mendidik tak kenal lelah dan mengajari segala hal tak kenal menyerah.
Segala penderitaannya adalah demi kita anaknya. Sejak di dalam kandungan hingga dewasa ibu selalu menjadi penjaga dan pembimbing kita. Pendidikan yang pertama kita dapatkan adalah pendidikan dari ibu. Pelajaran dan ilmu yang kita peroleh juga dari beliau. Kita bisa lancar berbicara karena bimbingan beliau, kita paham benda dan lingkungan sekitar kita berkat beliau dan kita bisa jadi seperti sekarang adalah karena beliau. Namun, terkadang kita anak-anaknya ini seolah tak memperdulikannya. Kasih sayangnya seakan dibalas dengan perbuatan yang menyakitinya.
Tuhan pun demikian menghargai makhluknya yang bernama &#8220;ibu&#8221; ini. Derajatnya sangat dimuliakan-Nya. Surga</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kaumbiasa.com/ibu.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>34</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rama &#8220;Sowan&#8221; Eyang Buyut</title>
		<link>http://kaumbiasa.com/rama-sowan-eyang-buyut.php</link>
		<comments>http://kaumbiasa.com/rama-sowan-eyang-buyut.php#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Dec 2009 08:24:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ciwir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Family]]></category>
		<category><![CDATA[Cokro]]></category>
		<category><![CDATA[Kartasura]]></category>
		<category><![CDATA[Klaten]]></category>
		<category><![CDATA[Makamhaji]]></category>
		<category><![CDATA[Nglungge]]></category>
		<category><![CDATA[Pemancingan Janti]]></category>
		<category><![CDATA[Polanharjo]]></category>
		<category><![CDATA[Sidowayah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kaumbiasa.com/?p=1038</guid>
		<description><![CDATA[<p>Sedikit urusan kerjaan mengharuskan saya harus mengunjungi Solo Raya. Dan ini membawa konsekuensi juga bahwa Rama Maheswara Az Zahirul Haq ikut pula ke Solo sekalian guna menengok Eyang putrinya yang ada di tlatah Makamhaji Kartasura Solo.
Setelah urusan saya selesai, pada hari Minggu (13/12/2009) saya mengajak Rama jalan-jalan ke tlatah Klaten, tepatnya di Dusun Nglungge Desa Sidowayah Kec. Polanharjo Kab. Klaten, sekitar 5 Km sebelah timur (sebelumnya jika dari arah Solo) Kawasan Pemancingan Janti Klaten. Kami kesana untuk mengunjungi rumah Eyang Buyutnya Rama, yang juga tempat dimana saya dilahirkan. Rumah itu telah hampir 15 tahun tidak dihuni sejak Eyang Buyutnya Rama wafat. Rumah itu sudah menjadi hak miliknya pakde (kakaknya bapak saya), tapi karena beliau juga sudah memiliki rumah sendiri dan anak-anaknya tidak mau menempati ya akhirnya dibiarkan kosong tak berpenghuni.
Dulu saya mulai lahir hingga remaja tinggal disini menemani mbah putri yang sendirian. Namun sejak</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sedikit urusan kerjaan mengharuskan saya harus mengunjungi Solo Raya. Dan ini membawa konsekuensi juga bahwa Rama Maheswara Az Zahirul Haq ikut pula ke Solo sekalian guna menengok Eyang putrinya yang ada di tlatah Makamhaji Kartasura Solo.
Setelah urusan saya selesai, pada hari Minggu (13/12/2009) saya mengajak Rama jalan-jalan ke tlatah Klaten, tepatnya di Dusun Nglungge Desa Sidowayah Kec. Polanharjo Kab. Klaten, sekitar 5 Km sebelah timur (sebelumnya jika dari arah Solo) Kawasan Pemancingan Janti Klaten. Kami kesana untuk mengunjungi rumah Eyang Buyutnya Rama, yang juga tempat dimana saya dilahirkan. Rumah itu telah hampir 15 tahun tidak dihuni sejak Eyang Buyutnya Rama wafat. Rumah itu sudah menjadi hak miliknya pakde (kakaknya bapak saya), tapi karena beliau juga sudah memiliki rumah sendiri dan anak-anaknya tidak mau menempati ya akhirnya dibiarkan kosong tak berpenghuni.
Dulu saya mulai lahir hingga remaja tinggal disini menemani mbah putri yang sendirian. Namun sejak</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kaumbiasa.com/rama-sowan-eyang-buyut.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>32</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

