Nama ini bagi saya memang terasa tidak asing lagi, sebab beberapa kali saya menemukan dan membaca tulisan mengenai kawasan ini di blognya mas Andy MSE serta website resmi Sekolah Rakyat Kendal. Dan baru pada 21 Agustus 2010 kemarin saya berkesempatan mengunjungi kawasan yang sedang dikembangkan menjadi desa wisata tersebut. Banyuwindu adalah nama sebuah dusun yang berada di desa Limbangan, kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Adalah dusun (perkampungan) paling atas yang terdapat di sebelah barat pegunungan Ungaran. Karena keindahan alamnya serta banyaknya keanekaragaman hayati yang terdapat di sana maka tidak heran jika kawan-kawan Sekolah Rakyat bersama dengan warga dan perangkat desa berinisiasi untuk menjadikan kawasan Banyuwindu sebagai kawasan Desa Wisata Konservasi. Selama sehari semalam saya di sana memang tidak cukup untuk menikmati keindahan alam, apalagi untuk melihat keanekaragama hayatinya seperti kupu-kupunya, vegetasi (tanaman) yang cukup langka serta
Disepakatinya ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA) pada Januari 2010 lalu setidaknya membuat banyak pihak khawatir. Para pengusaha mulai khawatir produk-produknya tidak bisa bersaing dengan produk-produk dari China. Lha wong belum ada ACFTA saja produk China telah membanjiri pasar Indonesia. Sedikit namun pasti menggeser dan menyingkirkan produk-produk lokal. Murahnya harga adalah alasan orang memilih produk dari China. Jangankan para pengusaha yang bermodal besar dengan jaringan yang luar serta memiliki pasar yang lebih tertata, para petani pun merasakan dampaknya. Buah lokal lebih mahal dari buah impor. Apalagi jika ACFTA benar-benar mulai diberlakukan. Sudah dapat dipastikan semakin banyak produk-produk China membanjiri pasaran Indonesia. Ditambah dengan perilaku konsumen kita yang mementingkan gengsi daripada gizi jelas akan memilih buah dan makanan impor karena dianggap lebih bergengsi. Maka semakin terpuruklah pedagang kecil dan produsen pangan alias petani kita. Dampak
Sebenarnya perubahan iklim lebih disebabkan oleh apa yang disebut dengan Gas Rumah Kaca sebagai akibat dari Efek Rumah Kaca yang terjadi karena kerusakan Atmosfer. Atmosfer yang seharusnya dapat menahan dan melindungi kehidupan bumi dari serangan radiasi sinar matahari dan meredam perbedaan suhu secara ekstrem pada siang dan malam, mengalami kerusakan atau perubahan gas-gas penyusunnya maupun mengalami penipisan gas-gasnya. Atmosfer adalah gas yang menyelubungi bumi dari “ancaman” benda-benda atau zat atau apapun dari luar bumi (angkasa). Gas penyusun Atmosfer terdiri dari Nitrogen (78%); Oksigen (21%); Argon (1%); Ozon (0.01%); Karbondioksida (0.1%) dan Uap Air (0-7%). Lapisan Atmosfer terdiri atas Troposfer, Stratosfer, Mesosfer, Termosfer, Eksosfer. Pancaran sinar matahari yang sampai ke bumi setelah sebagian diserap, sebagian lagi harusnya dapat dipantulkan kembali, sehingga akan menimbulkan akumulasi gas radiasi matahari sehingga akan berakibat pada apa yang