Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus diguncang prahara dan terus melamah seolah tak berdaya. Kasus-kasus korupsi pun kini bukan lagi menjadi menu KPK. Kejaksaan dan Satgas Pemberantasan Mafia Hukum lebih berperan. Sebenarnya ada apa dibalik itu semua??? Saya mencoba menebak dan menerka serta menganalisa dibalik semua itu. Tapi ingat ini sekedar analisa kaumbiasa, bukan analisa pakar hukum atau politik lho yaw.. Mari sejenak mengingat kejadian tahun 2008-2009, ketika Aulia Pohan terkena kasus dan akhirnya dijebloskan ke penjara. Menurut saya inilah pangkal dari pada prahara dan upaya pelemahan KPK sekarang ini. Kekuasaan dan wewenang KPK pasca kejadian itu kemudian seolah dilucuti dengan diubahnya Undang-undang tentang KPK oleh DPR. Kewenangan KPK yang semula seolah tak terbatas dan KPK menjadi sebuah lembaga superbody menjadi sebuah lembaga yang superletoy. Ini kemudian “dikembangkan” dengan berbagai kasus yang menimpa para petingginya. Antasari Azhar, Ketua KPK
Bagi saya sebenarnya sudah tidak asing lagi dengan yang namanya Dana Aspirasi anggota DPR ini. Sejak 5 tahun lalu ketika mulai terdampar di Magelang, yang namanya Dana Aspirasi sudah membumi dan menjadi menu tahunan para anggota dewan serta warga masyarakat di daerah pemilihan serta desa. Mereka, para warga dan perangkat desa, sudah njagakne dana sinterklas ini cair di tempat mereka. Beberapa hari ini, Setgab Koalisi Partai Pendukung Pemerintah yang dipelopori oleh Golkar mencoba membuat move dengan menggulirkan dana aspirasi per Dapil sebesar 15 M, kemudian usulan itu diganti menjadi 1 M per desa. Bagi saya pribadi adalah ndak masalah dengan usulan tersebut. Akan tetapi, mbok yao belajar dari beberapa wilayah yang ada dana aspirasi dan selalu bermasalah. Sudah banyak anggota dewan terdampar di penjara karena kasus korupsi dan penyelewengan dana aspirasi tersebut. Saya hanya sekedar berbagi saja, sepanjang pengamatan saya di Kabupaten Magelang semenjak tahun 2006 lalu, Dana
Saat membaca tulisane Mas Andy MSE tentang Kebangkitan Nasional saya jadi teringat dengan sebuah diskusi kecil yang dilakukan kawan-kawan di sebuah wedangan di Solo saat saya masih kuliah dulu. Perdebatan tentang apakah Boedi Oetomo berperan penting dalam momen tersebut ataukah justru SDI yang lebih tepat dikatakan sebagai pelopor kebangkitan nasional??? Sampai saat ini belum ketemu jawabannya yang tepat. Semua berargumen masing-masing. Dan saya yakin dalam berargumen selalu ada dasarnya. Pada obrolan kami sekitar 5 tahun lalu tersebut, kami sepakat bahwa tonggak Kebangkitan Nasional adalah saat momen Soempah Pemoeda 1928. Dan itu lebih pas ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Nasional, sebab ketika itu berbagai kelompok dan komponen bangsa dari berbagai kesukuan, agama dan ras bertemu dan menyatakan bahwa Indonesia adalah bangsa, tanah air dan bahasa yang satu. Bahwa munculnya Sumpah Pemuda memang didasari pada pergerakan nasional untuk merdeka dan tidak bisa dinafikan bahwa