Candi Ngawen adalah salah satu dari sekian banyak candi yang bertebaran di Magelang. Namanya memang kalah kondang dengan Candi Borobudur maupun Candi Mendut. Candi ini sampai sekarang juga belum selesai dipugar. Para ahli arkoelogi masih mencari-cari bentuk awalnya, disamping masih mengais-ngais reruntuhan candi ini. Candi Ngawen terletak di desa Ngawen Kecamatan Muntilan. Persisnya berada 2 km sebelah selatan Kompleks Makam Kyai Raden Santri, Gunung Pring, dan sekitar 5 km sebelah timur Candi Mendut. Menurut perkiraan, candi ini dibangun semasa dengan Candi Borobudur yakni pada masa Wangsa Syailendra. Berbeda dengan candi-candi Budha lainnya, Candi Ngawen terdiri dari 5 (lima) buah candi kecil-kecil. Namun dari kelimanya baru satu candi yang utuh kembali, itupun tanpa atap. Candi yang menghadap ke timur ini berada ditepian Kali Blongkeng Muntilan, sebuah sungai yang dipercaya banyak mengandung belerang. Seperti pada candi Mendut, masing-masing candi disini dihiasi ornamen
Nama ini bagi saya memang terasa tidak asing lagi, sebab beberapa kali saya menemukan dan membaca tulisan mengenai kawasan ini di blognya mas Andy MSE serta website resmi Sekolah Rakyat Kendal. Dan baru pada 21 Agustus 2010 kemarin saya berkesempatan mengunjungi kawasan yang sedang dikembangkan menjadi desa wisata tersebut. Banyuwindu adalah nama sebuah dusun yang berada di desa Limbangan, kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Adalah dusun (perkampungan) paling atas yang terdapat di sebelah barat pegunungan Ungaran. Karena keindahan alamnya serta banyaknya keanekaragaman hayati yang terdapat di sana maka tidak heran jika kawan-kawan Sekolah Rakyat bersama dengan warga dan perangkat desa berinisiasi untuk menjadikan kawasan Banyuwindu sebagai kawasan Desa Wisata Konservasi. Selama sehari semalam saya di sana memang tidak cukup untuk menikmati keindahan alam, apalagi untuk melihat keanekaragama hayatinya seperti kupu-kupunya, vegetasi (tanaman) yang cukup langka serta
Di Magelang terdapat gunung atau bukit yang tingginya sekitar 600 m dpl, dan berada di tengah kota. Itulah Gunung Tidar. Asal muasal nama Tidar sendiri masih banyak versi. Ada salah satu versi yang menyebutkan bahwa nama itu berasal dari kata “Mati dan Modar”. Jadi karena angkernya Gunung Tidar waktu dulu, maka kalau ada orang mendatangi gunung tersebut kalau tidak Mati ya Modar. Cerita legenda keangkeran Gunung Tidar dapat disimak dalam Hikayat Gunung Tidar ini. 25 Juli 2010, 15 (lima belas) manusia yang tergabung dalam Komunitas Pendekar Tidar menapaki jalur pendakian Gunung Tidar dari pintu pendakian di kawasan Magersari belakang terminal lama Magelang. Kelima belas Bala Tidar tersebut adalah Mas Aviv, Mas Hanafi, Mas Yudha, Mas Yudo, Mas Kukuh, Restu, Mas Arif, Pak Soli, Pak Singgih, Temannya Pak Singgih, Mas Deden, Mbak Susi, Mbak Emi, Mas Ikhwan dan Bang Ciwir Jalan setapak yang sudah dipaving ternyata masih saja membuat kaki saya berat diangkat melangkah karena