Episode Babat Alas Pendidikan Kita

Tulisan ini saya sampaikan sebagai sebuah kritik oto kritik sistem pendidikan kita. Meskipun tulisan ini telah saya buat pada Mei 2007 lalu atas permintaan Redaksi Majalah LePas terbitan PKC PMII Jateng, namun saya publish di blog ini karena terinspirasi oleh tulisan-tulisannya pak Sawali tentang seputar pendidikan kita ini. Semoga bermanfaat.

wisudaManusia dan pendidikan adalah ibarat dua sisi mata uang yang sukar dipisahkan. Manusia sangat membutuhkan yang namanya pendidikan guna menjalani kehidupannya. Oleh sebab itulah pendidikan adalah hak setiap manusia yang harus ia dapatkan. Bahkan negara kita, telah menjaminnya dalam konstitusi tertinggi negara yaitu dalam Undang Undang Dasar 1945 Pasal 31, yang menyatakan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran. Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa setiap manusia yang hidup dan tinggal di Indonesia dimana pun ia tinggal, apa pun status sosialnya, adalah dijamin oleh konstitusi haknya atas pendidikan.

Indonesia sudah beberapa kali bongkar-pasang kurikulum. Namun sayangnya bongkar-pasang kurikulum kita selalu episode babat alas bagi sistem pendidikan kita. Pembangunan pendidikan kita seolah kurang bahkan tidak berjalan secara berkesinambungan. Selalu berhenti pada satu babak dan dimulai kembali episode baru, yang sama sekali berbeda. Mulai kurikulum 1984, 1989, 1994 dan terakhir adalah Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) bergantilah dengan KTSP. Selalu ada ciri dan spesifikasi khusus. Semuanya dilakukan atas dasar guna peningkatan mutu pendidikan.

Sebenarnya permasalahan mutu pendidikan terkait dua hal penting yaitu penerapan kurikulum yang tepat dan terkait dengan peran guru. Kurikulum kita selama ini belum memberikan ruang kreasi siswa (didaktis pedagogis) sehingga kreasi siswa dapat lebih bermakna. Siswa banyak tahu informasi, tetapi ia tidak tahu apakah informasi tersebut bermakna bagi kehidupannya atau tidak. Paulo Freire menyebutnya dengan banking concept of education atau pendidikan gaya bank, dimana guru hanya berperan sebagai penabung yang mendepositokan banyak informasi kepada siswa, tetapi tidak pernah membicarakannya untuk apa informasi itu harus dikuasai siswa. Idealnya, proses belajar mengajar menuntut guru dan siswa untuk bersikap lebih toleran, menjunjung tinggi prinsip kebersamaan dan kebhinekaan serta menganut pola berpikiran inklusif. Dengan demikian guru dan siswa dapat secara bersama-sama belajar menggali kemampuan masing-masing secara optimal.

Banyak kalangan menilai bahwa reformasi dunia pendidikan Indonesia berjalan sangat lambat, salah satunya disebabkan karena guru, banyak guru yang tidak mau berubah katanya. Bangsa dan negara ini sangat membutuhkan sosok guru yang sadar betul bahwa tugas dan profesinya sebagai pendidik adalah sebuah panggilan hidup, sosok seorang guru yang profesionalitasnya tidak diragukan, punya sikap demokratis, penuh dedikasi dan mampu berfungsi sebagai seorang intelektual. Sebab tantangan pendidikan kita saat ini sangat besar, mutu pendidikan kita sudah sangat rendah baik dari sisi teknologi (iptek) maupun moral-kemanusiaan.

Namun, menurut saya adalah bukan hanya pada peran guru tersebut. Akan tetapi juga terkait erat dengan penerapan kurikulum. Jika kurikulum kita ini selalu dan selalu babat alas lalu bagaimana guru dapat berperan optimal dalam mendidik siswanya? Kecepatan inovasi sangat dihargai. Namun, biarkan sistem yang dibangun tersebut berjalan dan waktu yang akan menentukan. Pergantian kebijakan pendidikan juga harus dihilangkan. Ganti menteri jangan ganti kebijakan. Akhirnya babat alas lagi. Jika demikian halnya, maka jangan salahkan jika guru tidak mau berperan secara optimal.

Guru juga manusia. Butuh waktu untuk belajar dan menyesuaikan diri pula. Bukan sebuah robot yang dapat dijalankan dan dihentikan setiap saat sesuai kemauan si pemilik. Ketika episode babat alas kurikulum ini tidak segera diakhiri, maka sampai kapan pun pendidikan Indonesia akan biasa-biasa saja. Pembangunan yang berkesinambungan itulah kuncinya. Monitoring dan evaluasi (monev) adalah sesuatu yang harus dilakukan. Diawasi, diamati kemudian dievaluasi apa yang menjadi kekurangannya dan apa kelebihannya. Yang kurang diperbaiki dan yang lebih atau baik dipertahankan dan ditingkatkan. [*]

gambar ambil dari sini

41 Responses to “Episode Babat Alas Pendidikan Kita”
suwung Posted on 17 December, 2008 at 20:23
menggunakan Unknown Unknown pada Unknown Unknown

tumben tulisanya beda

[Reply]

kishandono Posted on 17 December, 2008 at 20:29
menggunakan Unknown Unknown pada Unknown Unknown

pendidikan di Indonesia ibaratnya masih mencari jati diri (dan terus menerus mencari)

[Reply]

endar Posted on 17 December, 2008 at 21:10
menggunakan Unknown Unknown pada Unknown Unknown

betul mas sekarang kebijakannya berubah-ubah.
pak wardoyo mau berubah nggak ya mas?

[Reply]

cebong ipiet Posted on 17 December, 2008 at 21:23
menggunakan Unknown Unknown pada Unknown Unknown

tumben beda tulisannya

*melu2 suwung mung diwulak walik kata kata ne xixiixix

betul mas, saya setuju pokoke…dg semua yg ditulis
sudah capek ngoceh jadi manut urun setuju

[Reply]

Ullyanov Posted on 17 December, 2008 at 23:27
menggunakan Unknown Unknown pada Unknown Unknown

Ga cuma kurikulum dan peran guru yang jadi masalah dalam sistem pendidikan kita, melainkan juga dana. Kurikulum dan guru sebagus apa pun, kalau tidak didukung dana yang memadai juga tak akan banyak memperbaiki. Sarana dan prasarana yang harus dibenahi pun butuh dana. Banyak sekolahan atau lembaga pendidikan yang bagus di negeri ini, tapi biayanya selangit, tak terjangkau rakyat kecil. Maka, faktor dana itulah yang bisa memenuhi kebutuhan pendidikan rakyat kecil.

[Reply]

khairuddin syach Posted on 17 December, 2008 at 23:27
menggunakan Unknown Unknown pada Unknown Unknown

“Guru Juga Manusia” Begitu judul lagu dari grou band asal Bandung.
Mendengar berita2 di televisi akhir2 ini, sungguh mengharukan. Banyak kejadian di sekolah, baik tingkat pertama maupun tingkat atas, dimana seorang oknum guru tega menampar para siswanya karena alasan sepele. Tidak semua memang. tapi tampaknya para guru juga agak kewalahan mendidik para murid yang bandel2 itu…. Jangan salahkan guru, krn guru juga manusia, sama spt kita, punya emosi jika dihadapkan pada masalah spt itu.
Pendidikan kita takkan pernah maju… mahasiswa ajah tawuran mulu, suka memaksakan kehendak. Beda dengan jaman saya dulu. mahasiswa di hormati di masyarakat, krn bisa menjadi contoh yang baik bagi adek2 yang lain(narsis banget ya gw)
sory niy ngelatur wir…*effect tengah malam menjelang pagi* :)

[Reply]

nita Posted on 17 December, 2008 at 23:42
menggunakan Unknown Unknown pada Unknown Unknown

mutu guru juga gak kalah penting. saya merasakan mutu guru masih perlu sangat3x ditingkatkan dan peningkatan ini perlu dana yg gak sedikit. guru itu perlu suka baca agar wawasannya luas, juga keep up dg kemajuan sekeliling spt teknologi, ini semua perlu fasilitas yg seringkali minim krn dana gak ada

[Reply]

Sawali Tuhusetya Posted on 18 December, 2008 at 01:19
menggunakan Unknown Unknown pada Unknown Unknown

wah terima kasih banget postingannya, mas santri, setidaknya bisa ikut menambah maraknya diskursus ttg dunia pendidikan kita yang selama ini dinilai masih jalan di tempat. ttg gonta-ganti kurikulum memang sempat menimbulkan kontroversi. setiap kali ganti menteri ganti kurikulum. bagi saya, sebenarnya kurikulum memang perlu selalu dikaji agar sesuai dg konteks zamannya. konon, terjadi sikulus perganian generasi antara 10-15 tahun. idealnya memang kurikulum pun dikaji setelah berlaku sekitar 10-15 tahun. nah, ttg guru, duh, ndak ada habis2nya sosok ini dibicarakan banyak orang. sekarang beban guru makin bertambah dg kebijakan UN. ketika siswa gagal lulus, orang dg cepat menuduh guru sbg biangnya karena dianggap tdk mampu mengajar dg baik. padahal, sejatinya, guru hanya semacam skrup dalam sebuah mesin raksasa. adanyak komponen yang memengaruhi mutu pendidikan sebuah bangsa. wah, postingannya menarik, mas santri.

[Reply]

Rita Posted on 18 December, 2008 at 06:12
menggunakan Unknown Unknown pada Unknown Unknown

Sepertinya masalah kurikulum memang selalu akan disesuaikan,akan selaras dengan “keadaan zaman” agar pendidikan itu maju dan berkembang. Yang jadi tantangan adalah bagaimana menumbuhkkan daya serap para pelaku pendidikan (guru dan murid),memiliki mentalitas kreatif dan punya daya inisiatif, memiliki daya fleksibilitas yang mampu menghadapi tantangan/perubahan kedepannya. Untuk itu dibutuhkan semua pihak ikut terlibat dialamnya (murid, guru, orang tua/masyarakat.

[Reply]

nico Posted on 18 December, 2008 at 08:07
menggunakan Unknown Unknown pada Unknown Unknown

setuju! penggantian kurikulum membingungkan mulai dari orang tua, guru, siswa. Saya sendiri merasakannya, guru itu kayak bingung sendiri… Saya gak tau ya alasan gonta ganti kurikulum, tapi yang jelas hal tersebut menandakan ketidakpastian pemerintah dalam menangani masalah pendidikan yang masih kacau di Indonesia.

kenapa ketidakpastian? lha ganti menteri ganti kurikulum. Masalahnya adalah terlalu sering kita itu ganti kurikulum. Seharusnya yang tepat adalah menyesuaikan kurikulum bukan dengan cara menggantinya!

[Reply]

Didien® Posted on 18 December, 2008 at 08:56
menggunakan Unknown Unknown pada Unknown Unknown

lha kuq guruku cuma dari pengalaman yah..??? :roll: (kurikulum berubah tiap menit :mrgreen: )
saya juga bingung, sekolah dulu bukunya masih bisa di pake utk adik kelas smp buku itu tak berwujud lagi..lha skrg tiap semester ganti buku. tau ken apa?

[Reply]

Panda Posted on 18 December, 2008 at 08:58
menggunakan Unknown Unknown pada Unknown Unknown

sepakat juga mas

[Reply]

abdee Posted on 18 December, 2008 at 09:14
menggunakan Unknown Unknown pada Unknown Unknown

Ngelmu iku kelakone kanti laku…
Ilmu itu melalui proses..

Masalahnya kdang kita maunya instan, gak pingin repot2, dan berpikir kritis.

[Reply]

gajah_pesing™ Posted on 18 December, 2008 at 09:39
menggunakan Unknown Unknown pada Unknown Unknown

beda tulisannya tumben?

*melu-melu wong edan neng duwur*

[Reply]

yaliyajilbaber Posted on 18 December, 2008 at 10:47
menggunakan Unknown Unknown pada Unknown Unknown

dalam hal pendidikan gak hanya guru aja yang bertanggung jaawab untuk siswa tetapi harus didukung oleh masyarakat terutama orang tua dari siswa itu sendiri…..

[Reply]

Lyla Posted on 18 December, 2008 at 11:10
menggunakan Unknown Unknown pada Unknown Unknown

wah… pak… pendidikan kyk alas ya kok dibabat hehehe… kidding pak.. komentku gak nyambung yak :D

[Reply]

casual cutie Posted on 18 December, 2008 at 11:48
menggunakan Unknown Unknown pada Unknown Unknown

wah…bingung jg ya sm pendidikan di Indonesia, anak SD aja udah belajar pelajaran rumit setara anak SMU, cb liat matematika SD, sampe itung2 kurva segala, buat apa toh??? emang buka dagangan mesti ngitung kurva?? kl diluar negri, ini berdasarkan pengakuan teman sy yang dapat kesempatan ikut pertukaran pelajar ke luar negri, anak SMU di sana br belajar ttg fotosintesis, ga ada namanya pelajaran ribet ngejelimet bikin pusing. Anak SD dibebanin ky gt, ntar pas kuliah otaknya kosong alias lupa ingatan alias…ah…pusing stress dan kdg ga semangat deh belajarnya..

[Reply]

nanzzzcy Posted on 18 December, 2008 at 12:44
menggunakan Unknown Unknown pada Unknown Unknown

hmm.. memang msh banyak yg perlu di benahi di dunia pendidikan kita
hope someday.. semuanya bisa lebih baek lagi lah..

tapi emang guru tuh is the best lah.. kalo tanpa mereka aku blm tentu bisa nulis kyk skrg
luph u so much guru2 indonesia..
muaachh.. muaacchhh

[Reply]

airlangga89 Posted on 18 December, 2008 at 12:58
menggunakan Unknown Unknown pada Unknown Unknown

gue heran ma orang brunei yang selalu di gaji ketika masuk sekolah.. hmmm.. andai saja Indonesia seperti itu.. pasti sekolahan penuh ma kakek kakek N orang tua jompo.. hahaa…. :)

Lam knal.. jaaaaa… ;) good post..

[Reply]

Lala Posted on 18 December, 2008 at 12:59
menggunakan Unknown Unknown pada Unknown Unknown

Menurutku, kurikulum dirubah ga masalah sih, mengikuti perkembangan jaman dan perkembangan ilmu pengetahuan kan memang harus berubah jadi lebih baik. Mendingan berpikir positif saja, bahwa perubahan itu memang untuk kemajuan kwalitas generasi penerus bangsa, dan guru pun seharusnya bisa fleksibel, kreatif dan inovatif bukan trus ngambekan :)
Guru digugu lan ditiru..kalo gurunya dikit2 ngambekan dikit2 emosian, gimana muridnya nanti ya :D

[Reply]

Sarah Luna Posted on 18 December, 2008 at 16:05
menggunakan Unknown Unknown pada Unknown Unknown

Walaaaah…
Ckckckckkck… *berharap ada perbaikan dengan kondisi pendidikan di Indonesia.

[Reply]

grubik Posted on 18 December, 2008 at 16:54
menggunakan Unknown Unknown pada Unknown Unknown

memang mas banyak sekali sisi dari pendidikan yang perlu diperbaiki,kurikulum, kualitas guru (mulai dari rekruitmennya sampai pengembangan kompetensi), fasilitas, urusan duit dan lain seabreknya begitu…

[Reply]

Ly Posted on 18 December, 2008 at 19:35
menggunakan Unknown Unknown pada Unknown Unknown

waaahh… pendidikan formal sekarang bener² bikin pusing
buku² nya juga gak bisa turun temurun ke adik kelasnya bikin repot kan para orang tua :( (lho! kayak yang dah jadi orang tua aja) huehuhue *just prihatini sama orang tua* :D

[Reply]

departa Posted on 19 December, 2008 at 07:43
menggunakan Unknown Unknown pada Unknown Unknown

Pendidikan di negeri ini memang payah,udah mahal,ribet,dah lulus juga cari kerja dengan ilmu yang didapat terkadang masih susah :D

[Reply]

sanggita Posted on 20 December, 2008 at 04:38
menggunakan Unknown Unknown pada Unknown Unknown

Saya banyak mendengar dan membaca keluhan2 semacam ini. Tapi jarang yang melakukan tindakan konkret untuk mengubah.

Berbeda dengan Umi saya. Eyang buyut anak saya. Nenek dari suami saya. Saya tidak pernah mendengar beliau mengeluh tentang mutu pendidikan yang rendah-lah, guru yang etosnya kurang-lah, atau kurikulum yang nganeh2i.

Di sini, di Sukabumi, beliau mendirikan sekolah sendiri. Hingga gang menuju ke rumah beliau disebut Gang Pendidikan. Jika pagi hingga siang anak2 sekolah (TK/SD), siang hingga sore mereka ikut kelas agama. Usia sekolah ini lebih tua dari mamah mertua saya. Bahkan ada yang yang dulu TK sekolah disana, sesudah dewasa menjadi guru TK tersebut.

Outputnya? Insyaalah sholeh dan sholekhah, santun, cerdas, aktif, dan ketika dewasa menjadi orang sukses (dengan parameter yang berbeda2).

[Reply]

sanggita Posted on 20 December, 2008 at 16:52
menggunakan Unknown Unknown pada Unknown Unknown

Saya lihat, di Jogja juga bermunculan sekolah2 alternatif. Untuk PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini): Ada UGM dengan PAUD-inklusinya (kelas campuran antara anak ‘normal’ dan anak berkebutuhan khusus),First Step dengan metode pembelajaran yang inovatif, Book Monster yang kurikulumnya unik.

Untuk setingkat SD hingga SMA, saya kurang tahu. Mungkin orang Jogja ada yang bisa menambahkan?

[Reply]

Farrel Posted on 23 December, 2008 at 05:20
menggunakan Unknown Unknown pada Unknown Unknown

Mungkin karena pendidikan di Indonesia sudah ter-setting seperti itu…

[Reply]

afie Posted on 27 December, 2008 at 17:23
menggunakan Unknown Unknown pada Unknown Unknown

Ini memang salah satu masalah krusial di negara kita. Pendidikan dijadikan proyek semata. Ganti kurikulum itu berarti ganti segalanya. Kalau semuanya baru berarti harus ada proyek baru, apakah ini karena mengejar komisi baru? Masak sih buku pelajaran tiap tahun harus ganti? Masak sih strategi pembelajaran harus selalu ganti. Sekarang, peran guru mulai digantikan peran guru bimbingan pelajaran, karena target belajar hanyalah lulus UAN.

[Reply]

xitalho Posted on 3 June, 2009 at 23:46
menggunakan Firefox 3.0.10 Firefox 3.0.10 pada Windows XP Windows XP

Semoga sistem pendidikan di negeri ini bisa lebih baik dan lebih membumi…

Beda tulisane koq tumben…. (suwung_mode=on)

xitalho’s last blog post..Tembang Kehidupan

[Reply]

MQ HIDAYAT Posted on 3 June, 2009 at 23:47
menggunakan Firefox 3.0.3 Firefox 3.0.3 pada Ubuntu 8.10 Ubuntu 8.10

Pendidikan jaman saiki saiki semakin gak aplikatip.
Akhirnya, orientasi sekolah cuma buat cari ijasah.
wes ngunu, biayae (terutama PT) smakin gak terjangkau. Padahal yo, nggletek, ngunu thok.

[Reply]

itempoeti Posted on 4 June, 2009 at 00:02
menggunakan Firefox 3.0.10 Firefox 3.0.10 pada Windows XP Windows XP

tulisannya kok…. gak jadi aaaahhhh…

yo wis pancen ngono kuwi… yo toooo???

[Reply]

Pradna Posted on 4 June, 2009 at 00:02
menggunakan Google Chrome 2.0.169.1 Google Chrome 2.0.169.1 pada Windows XP Windows XP

wih, komentare wis tuwo2 (terakhir 27 desember 2008)

pokoke,
ganti kurikulum, ganti proyek, gonta-ganti proyek fulus jalan terus

Pradna’s last blog post..Obrolan Sore : Gawat!

[Reply]

senoaji Posted on 4 June, 2009 at 00:14
menggunakan Firefox 3.0.10 Firefox 3.0.10 pada Windows XP Windows XP

butuhmu opo nggo episode iki, artise sing piye? lampu ne sing pirang wot? arep nganggo property opo? terus mek ap seko martha digital opo ming bedak mark thok? milih ae padakno bajet! sing penting ojo lali benike sing apik model-model pin ngunu

intine tulisane koyo baceman tempe? ngampleng ngampleng enake

senoaji’s last blog post..Ublik

[Reply]

ciwir Reply:

iki dudu filem layar lebar, tapi sinetron nda…

ciwir’s last blog post..Perlindungan Konsumen

[Reply]

suryaden Posted on 4 June, 2009 at 00:15
menggunakan Firefox 3.0.10 Firefox 3.0.10 pada Mac OS X Mac OS X

itulah indahnya negeri begajul.. sangat indah dinamis dan menyegarkan…
ganti kurikulum adalah dengan kata lain adalah perbaikan kurikulum itu sangat dianjurkan, cuman ya fasilitas dan sarana prasarananya (iki bahasa orde baru sing top) harus disediakan dan ditanggung negara jadi berani berbuat berani tanggung jawab, kalo hanya ngrubah terus dampaknya (ini juga bahasa orde baru) tidak dipikirken juga sama saja dengan “ngenthu ning ra tanggunjawab nek meteng” (lmao)
suryaden’s last blog post..Haramkanlah UAN

[Reply]

ciwir Reply:

(lmao)

[Reply]

Dum Posted on 4 June, 2009 at 00:20
menggunakan Firefox 3.0.10 Firefox 3.0.10 pada Windows XP Windows XP

alhamdulillah, saya ndak butuh sistem pengalasan pendidikan….

Dum’s last blog post..Amenangi Jaman Modern bersama Alnect Computer

[Reply]

LuxsmAn Posted on 4 June, 2009 at 09:56
menggunakan Google Chrome 2.0.172.28 Google Chrome 2.0.172.28 pada Windows XP Windows XP

ITULAH INDONESIA…………

[Reply]

mirinda Reply:

emang indonesia bagaimana mas?

mirinda’s last blog post..Kamera Samsung L-100 di Alnect Komputer

[Reply]

WordPress abc WordPress abc

[...] terakhir ini saya, Alhamdulillah, sedang mendapatkan beberapa job untuk melakukan sebuah riset pendidikan di wilayah Jogjakarta. Namun karena saya melihat deadline pekerjaan masih di bulan Oktober [...]

Rian Posted on 8 January, 2010 at 16:21
menggunakan Firefox 3.5.7 Firefox 3.5.7 pada Windows XP Windows XP

mendidik kita menjadi pengangguran ???

[Reply]

Post a Comment

CommentLuv Enabled

SEO Powered by Platinum SEO from Techblissonline