Home » Warna-Warni

Digugu lan Ditiru atau Wagu tur Saru?

25 November 2009 553 views 32 Comments

Menjadi seorang guru itu abot sanggane alias berat tangungjawabnya. Guru dalam bahasa Jawa sering maknai dengan digugu lan ditiru (sebagai contoh dan sebagai panutan). Artinya bahwa guru adalah contoh atau teladan bagi siswa dan lingkungannya. Apa yang dikatakan guru akan digugu alias diikuti oleh siswa-siswanya. Dan apa yang dilakukan oleh guru akan menjadi contoh yang diikuti siswa-siswanya pula. Maka adalah sebuah keharusan jika guru harus sedapat mungkin memberikan contoh dan teladan yang baik dalam tutur kata, perbuatan serta perilaku kesehariaan.

“guru kencing berdiri, maka murid kencing berlari”, lha terus wali murid dan kepala sekolah bagaimana? apakah anyang-anyangen (lmao)

Pendidikan Indonesia memang tidak akan pernah lepas dari peran guru, disamping keberadaan kurikulum yang menopang dan menyokong mutu pendidikan. Keduanya harus saling mendukung dan tidak bisa terlepas satu dengan yang lain. Kurikulum yang bagus dan keren tanpa didukung guru yang mumpuni dan komitmen tinggi maka jelas tidak akan tercapai targetnya. Siswa tetep saja nggak jadi pinter.

Bahwa dengan demikian, keberadaan guru sangatlah penting dalam konstelasi pendidikan dimanapun. Dan satu bahwa yang harus diingat bersama adalah kita semua bisa jadi apa-apa, sukses dengan apapun karena berkat seorang guru yang telah mendidik kita. Harus kita akui semua itu. Bahwasanya sejak dari sekolah TK, SD, SMP, SMU dan duduk di perguruan tinggi semua karena peran guru. Bisa jadi presiden, pengusaha, menteri ataupun sekedar pekerja harian lepas juga peran guru. Maka tak heran apabila kemudian sebagai penghargaan atas jerih payah itu “diagendakanlah” sebuah hari guru. Tapi jangan bilang bisa korupsi karena guru lho yaw… Atau bisa merekaya dan mengkriminalisasi orang juga karena guru lho yaw….

Tanpa guru kita ini bukanlah apa-apa. Namun, seorang guru pun akan disebut guru jika benar-benar bisa memberikan teladan dan contoh yang baik sehingga layak dan pantas disebut dengan digugu lan ditiru bukan dicap sebagai wagu tur saru. Untuk menjadi guru yang sesuai yang diharapkan harus berangkat dari hati nurani, meskipun perangkat pendukung seperti peraturan telah disiapkan, pelatihan selalu diadakan maupun penghasilan telah dinaikkan jika tidak kerena nuraninya maka tidak akan pernah bisa digugu lan ditiru.

32 Comments »

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.

CommentLuv Enabled