Sebuah rel kereta api berada di ditengah kota dan sejajar dengan sebuah jalan protokol. Dan masih difungsikan dengan baik. Ini bisa jadi satu-satu di Indonesia. Itulah yang ada di Kota Solo. Rel kereta api peninggalan kompeni ini masih digunakan. Adalah kereta Bengawan Jurusan Solo-Wonongiri selalu melintasinya tiap pagi dan sore.
Kereta api Bengawan jurusan Solo-Wonogiri berangkat dari Stasiun Purwosari sekitar pukul 08.00 sampai di Stasiun Wonogiri sekitar pukul 10.00 dan tiba kembali di Stasiun Purwosari (Solo) pukul 16.00 wib. Jadi hanya dua kali kereta Bengawan ini melintas. Saat ini kereta hanya membawa satu gerbong, karena memang hanya sedikit penumpangnya. Awalnya membawa 3 gerbong. Kecepatan kereta pun hanya 60km/jam. Itupun dilakukan setelah lepas dari Stasiun Kota (kawasan Sangkrah), sementara ketika masih melintasi Jalan Slamet Riyadi hanya berjalan pelan.
Tahun 2005, saya pernah mencoba naik kereta ini, ternyata kereta Bengawan ini bisa juga diberhentikan ditengah jalan. Waktu itu ada ibu-ibu yang nyegat ndalan di daerah Mojolaban, dan kereta juga berhenti. Jan persis bis kota tenan.
Sebenarnya, sudah banyak yang meminta rel kereta api tersebut dimatikan saja. Sebab, dikawasan Purwotomo (depan Pegadaian) rel bengkong yang memotong Jalan Slamet Riyadi itu telah banyak mengakibatkan pengendara motor jatuh karena terpeleset. Apalagi jika malam hari dan hujan, pengendara motor (terutama yang belum terbiasa lewat) pasti berjatuhan. Saya pada waktu masih kuliah (tahun 2003-an) sewaktu nongkrong di wedangan depan Pegadaian pernah menghitung orang jatuh dari jam 8 malam sampai 11 malam ada sekitar 15 (lima belas) kejadian.
Namun banyak pihak yang menginginkan tetap ada, termasuk saya. Sebab ini merupakan aset Kota Solo. Dalam pandangan saya, alangkah menariknya jika rel tersebut difungsikan menjadi sarana angkutan masal yang mengitari kota Solo. Bisa jadi dibuat rute : Purwosari – Kota (Sangkrah) – Jebres-Balapan – Purwosari. Mengingat Solo sebagai kota besar dipastikan satu saat akan memerlukan angkutan yang bersifat masal. Dan sepanjang rute rel tersebut dibuat halte-halte pemberhentian. Pasti menarik. Daripada busway atau rapit-bus lebih efektif dan efisien menggunakan kereta api tersebut.
Catatan : Foto diambil pada 22 Februari 2009. Klik untuk melihat ukuran besar.
Unknown pada
Unknown
Aku blm pernah naek kereta… :(
Unknown pada
Unknown
Kereta yang melintas di tengah kota rasanya merupakan pemandangan menarik. Kalau keselamatan bisa lebih ditingkatkan mengapa harus dimatikan. Di Yogya justru ada wacana mengaktifkan lagi kereta jurusan Yogyakarta – Bantul. Tapi entahlah, apakah itu akan terlaksana akhirnya.
Unknown pada
Unknown
Podo karo gajah_pesing kie, pengen nyoba numpak sepur kae, pie yo rasane
Unknown pada
Unknown
setuju…!sayang,sedulure sing wujud bis tingkat wis dipensiunke…padahal aku durung pernah numpak ning nduwur lo.ndeso buanget…
Firefox 3.0.6 pada
Windows XP
waahhh wingi pas ning solo ora diajak numpak sepur hiks..
ziegrusak’s last blog post..komunitas blogger, bubarkan saja!
Internet Explorer 7.0 pada
Windows XP
Wa kalau gara2 jatuh dari kereta api kerata apinya mau dihilangkan ya lucu kemudian diprotes, semisal pesawat terbang, kapal laut, bis, itu juga banyak bikin celaka membubuh banyak penumpang kenapa anda mas/mbak tidak protes untuk minta dihilangkan. Rel melintang di purwosari jga miring relnya harusnya juga di hilangkan kan juga banyak yang jatuh kalau lewat. Kota2 seperti jakarta, semarang, surabaya bandung, yang pernah punya rel tengah kota sekarang saja sedih menyayangkan atas hilangnya sejarah tranportasi itu. Masak wong di solo malah mau menghilangkan wah sayang mas/mbak.
Arora 0.10.1 pada
GNU/Linux
sangat menarik.. saya rasa ini mungkin satu2nya di indonesia
harus dilestarikan sebagai peninggalan budaya
.-= tulisan mas ahmad terbaru adalah : Kaos GusDur-ian =-.
Google Chrome 8.0.552.224 pada
Windows 7
lebih dibudayakan aja…salam kenal
Maaf, Komentar ditutup!!.
06:03