Sejak tahun 2004, quick count atau penghitungan cepat untuk proses Pemilu mulai dikenal di Indonesia. Karena sangat menarik dan cepat dalam menghasilkan data-informasi kepada publik tentang siapa yang memenangkan sebuah pemilihan maka quick count menjadi sesuatu yang laris manis di era Pilkada langsung.
Quick count, filosifi awalnya adalah sebagai sebuah proses pengawasan atau pemantauan, yang awalnya dilakukan oleh sekumpulan pengusaha di Filipina, namun seiring dengan berjalannya waktu quick count telah menjadi sebuah bisnis yang menggiurkan bagi lembaga-lembaga penyedia jasa tersebut.
Proses penghitungan suara melalui quick count dilakukan dengan menggunakan metode statistik yang dilakukan dengan menggunakan sistem sampling secara proporsional pada suatu wilayah. Toleransi error (kesalahan) antara 1-5%. Dengan rentang tingkat kesalahan tersebut tentunya sangat minim perbedaan antara hasil quick count dengan hasil pengitungan manual.
Namun ternyata dibeberapa daerah, proses pilkada menjadi ricuh karena hasil yang sangat mencolok antara quick count dengan penghitungan manual. Ambil contoh, Pilkada Gubernur Sulsel, Gubernur Banten dan terakhir adalah Gubernur Jatim. Artinya, dengan proses penghitungan berdasarkan pengambilan sampel tersebut bukanlah menjadi patokan sebagai hasil akhir sebuah penghitungan suara.
Jika menginginkan hasil penghitungan cepat namun akurat maka harus dilakukan dengan Quick-Real-Count atau penghitungan cepat dengan tanpa sampel (data dihitung dan diambil dari seluruh TPS dalam suatu daerah tersebut). Dijamin hasilnya akurat dan tidak ada deviasi (penyimpangan).
Catatan : saya pernah mencoba Quick-real-count tersebut pada Pilkada Solo 2005 lalu, dengan menggunakan teknologi SMS dari para saksi salah satu calon (maklum saya jadi tim sukses waktu itu) untuk disampaikan pada satu operator tiap kelurahan yang bertugas merekap hasil SMS tersebut kedalam komputer.
Unknown pada
Unknown
Tapi mereka menjelaskan data statistik koq…
tapi kalo memang seperti itu sudah dijelaskan bahwa margin erorrnya, itu berada dala 1-2 % sedangkan perbedaan suara dibawah 0.5 % jadi kemungkinan sih data yg diberikan oleh quick count itu yang disajikan… tidak bisa disimpulkan.
tapi yang diprotes KaJi adalah di Madura yang ternyata sebenarnya marjin errornya 1-2 % ternyata data real itu beda 10 %.. hmm.. itu yang diprotes KaJi.
Unknown pada
Unknown
bisa repot juga kalau penghitungan sementara semacam quick count angsung dipercaya, selama ini sih memang terasa agak valid karena kemenangan mutlak dari partai atau calon tertentu sudah diprediksi banyak kalangan. tapi kalau yang hasilnya hanya beda tipis seperti yang baru saja terjadi di jatim, makin tambah repot. konon, pihak kaji, minta pemilu ulang di madura. walah, ada2 saja isi dunia!
Unknown pada
Unknown
iya Bos, memang utk blogspot aku tutup comment-nya.. hehehe
cukup di MessageBox ajah..
Ngomongin survey, yang paling bahaya karena masyarakat, calon dan konstituen sering menganggap hasil survey itu sama dengan hasil sesunggunya. Alhasil pendukung khofifah ada yang sampe nggundulin kepala… karena survey LSI bilang khofifah menang..
Celaka kan?? apalagi lembaga survey itu “JUALAN” semua… emang dapet duwit darimana kalo gak bantuan dari calon juga.. qeqeqeq
Unknown pada
Unknown
Quick count ada hubungannya dengan Kwiek Kian Gie apa ndak ya…
ciwir Reply:
July 9th, 2009 at 11:51
nek karo wajik kwieek apane ya?
.-= ciwir´s last blog ..Nasi Penggel Kebumen =-.
Unknown pada
Unknown
yang menjadi masalah, penyimpangan data real-nya, ternyata ada yang sampai 10 %.. Mungkin, emang data yang valid dan bukan hasil ’sinkronisasi data’..tapi, kalo deviasi-nya ‘data real dilapangan’ amat sangat jauh dari yang ’seharusnya’, maka itu eh agak ‘mencurigakan’..
Unknown pada
Unknown
Menang cengengesan kalah ya sebaliknya,ya begitu tu…ciri2 orang kurang legowo.
kalau sportif ucapkan dooooong…..selamat!!! gitu aja kok repot hehehe….
gmana kl srh itung aja sendiri,kalau ga percaya, btul tidak….
kalau saya ga ngaruh sich….siapa yang menang.
Unknown pada
Unknown
kemaren megawati gak terima jagoan jatimnya kalah, lha wong cuman sample, dah gitu bedanya cuma nol koma, mana bisa dijadiin patokan, kalo bedanya 2 persen aja, baru bisa dijadiin patokan.
tapi seperti yang doel_eps bilang.. kagak ngaruh sapa yang menang juga, mukanya pada doyan duit semua. Ngomong2 kampanye, malah sekarang ada yang ndompleng nama Obama.. bilangnya pro obama.. so what gitu loh, mau pro malaikat juga gue gak percaya :P
Unknown pada
Unknown
yg pasti orang islam tu lagi di adu domba biar g bisa bersatu.podo2 nune we rak rukun opo meneh bedo.
Unknown pada
Unknown
masyarakat kita sedang diajari, dididik untuk ga jujur.. kalah pemilihan ketua kelas sih gpp. nah, klo pilgub, udah utang sana sini, bayarnya nanti pake apa? repotkan.. akhirnya ngerahin massa buat demo. kok pemuja demokrasi ga ada yg komen ama bginian ya. bikin undang2 apa kek, biar dapat duit lg buat rapat.
demokrasi kita masih sangat mahal boz..
Unknown pada
Unknown
klo KPU bisa melakukan penghitungan hasil pemilu pada hari pemungutan suara, tidak perlu lagi ada quick count, karena masyarakat sudah mengetahui hasil resmi pemilu pada hari itu juga. dalam era spt ini, untuk tahu hasil pemilu kok harus nunggu berhari-hari bahkan berminggu2….
Firefox 3.0.11 pada
Windows XP
Wah aku sih malas lihat hasil quick count lebih baik tunggu hasil akhirnya aja lah… bereskan…..
.-= Afrianti Takaful´s last blog ..Contoh Ilustrasi Asuransi Dana Pendidikan (Fulnadi) =-.
Internet Explorer 6.0 pada
Windows Server 2003
Bang Ciwir,
tetap saja, meskipun dengan quick real count pun tetap belum mau mengakui kalau kalah. apalagi kalah tipis.
Tetap saja ada yang bisa menjadi konflik di negeri ini.
Firefox 3.0.1 pada
Windows XP
kadang untuk kepentingan salah satu pihak saja..
Maaf, Komentar ditutup!!.
17:23
tapi kadang juga Quick Count menjadi sebab kekacauan tersebut seperti yang mas tulis
Kunjungan Balik….Terus Semangat