Magelang, setiap orang pasti tahu atau setidaknya pernah dengar kata tersebut. Adalah sebuah nama kawasan/daerah di dalam wilayah adminstratif Propinsi Jawa Tengah. Nama Magelang, sebagaimana Prasasti Poh, Prasasti GIlikan dan Prasasti Mantyasih yang ditulis diatas lempengan tembaga, pada zaman Mataram Kuno era Wangsa Sanjaya atau Mataram Hindu saat pemerintahan Raja Rakai Watukura Dyah Balitung (898-910 M), berasal dari kata Glang-glang. Keberadaan UU No 17/1950 tentang Pembentukan Daerah-daerah Kota Kecil dalam Lingkungan Propinsi Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jawa Barat dimana sebelumnya Kota Magelang adalah Ibukota Kabupaten Magelang (sesuai UU 22/1948 tentang Pokok Pemerintahan Daerah) menjadi berdiri sendiri secara otonom menjadi Kota Kecil. Sehingga sejak saat itu, Wilayah Magelang terdiri atas Kota Magelang dan Kabupaten Magelang. Maka jadilah Magelang 1 Nama, 2 Wilayah Administratif. Ini berbeda dengan Solo yang 1 Kota, 2 Nama. Tulisan saya kali ini tidak akan membahas lagi
Awal Nopember 2009 lalu, bapa lan biyung mertua berkunjung ke Magelang. Jauh-jauh dari Bojonegoro karena kengen sama putune lanang kang ajejuluk Rama Maheswara Az-Zahirul Haq. Karena sudah sampai bhumi Tidar kurang afdhol jika nggak berkunjung ke Candi Borobudur yang katanya ajaib itu. Memang, candi Borobudur tak jauh dari tempatku tinggal, kira-kira tak lebih dari 10 Km. Akhirnya, Selasa jam 7 pagi kami budhal menuju Borobudur. Memilih pagi hari agar tidak terlalu panas dan masih sepi serta saya jam 9 sudah harus ngantor. Candi Borobudur adalah bukti bangsa ini, khususnya wong Jawa, adalah bangsa yang jenius. Pada abad 9 Masehi dapat membangun sebuah candi besar dari konstruksi batu-batuan tanpa dukungan alat-alat modern. Tentang keajaiban Candi Borobudur dapat sampeyan simak disini. Selama tinggal di Magelang selama 5 hari, rumahku yang mungil itu menjadi penuh sesak. Meski demikian semua senang. Sang Rama senang karena ada adik sepupunya, Ale, yang berumur 4 tahun juga ikut. Dia
Candi Borobudur memang sudah kondang kaloka sak nuswantoro lan monconagoro. Sebuah candi yang berdiri di kawasan yang sekarang ini masuk dalam wilayah administratif Kecamatan Borobudur Kab Magelang Jawa Tengah, adalah sebuah bangunan suci agama Budha yang dibangun pada masa Mataram Kuno dibawah pemerintahan Dinasti Syailendra. Berdasarkan tulisan yang terdapat pada “kaki” tertutup dari Candi Borobudur yang berbentuk huruf Jawa kuno yang berasal dari huruf pallawa, diperkirakan tahun berdirinya candi tersebut pada tahun 850 Masehi. Candi Borobudur terdiri dari 2 juta bongkah batu, sebagian besar merupakan dinding-dinding berupa relief yang mengisahkan ajaran Budha Mahayana. Candi tersebut berukuran sisi-sisinya 123 M, sedang tingginya yang ada sekarang [setelah disambar petir] tinggal 31,5 M. Borobudur tidak memiliki ruang-ruang tempat pemujaan seperti candi-candi lainnya. Yang ada ialah lorong-lorong panjang yang merupakan jalan sempit dan tepinya dibatasi oleh dinding candi,