Abad 8 hingga 10 Masehi, ada sebuah peradaban di tlatah Jawa Tengah. Kerajaan Mataram Kuno, demikian orang menyebutnya sebagai pembeda dengan Mataram Islam (yang dianggap modern). Mataram Kuno merupakan peradaban yang bercorak Hindu dan Budha. Ada Mataram Hindhu dan Mataram Budha. Keduanya hidup berdampingan dengan damai. Mataram Hindu (Wangsa Sanjaya) dan Mataram Budha (Wangsa Syailendra), masing-masing memiliki pengikut dan peradaban. Keduanya, baik Wangsa Sanjaya maupun Wangsa Syailendra hidup berdampingan dengan damai dan penuh toleransi, sama-sama meninggalkan jejak peradaban berupa candi-candi yang tersebar diseantero Jawa Tengah (khususnya tlatah Klaten dan bhumi Magelang) dan Jogja. Wangsa Syailendra meninggalkan Candi Borobudur, Candi Mendut, Candi Pawon, Candi Ngawen serta candi-candi kecil yang banyak tersebar di bhumi Magelang. Sedangkan candi yang dibangun oleh Wangsa Sanjaya antara lain : Kompleks Gunung Dieng, Candi Kalasan, Candi Prambanan, Candi Rorojongrang, Candi
Candi Mendut adalah sebuah candi Budha yang didirikan oleh Raja Indra seorang raja pertama dari trah Dinasti Syailendra pada 824 M, ini artinya Candi Mendut dibangun lebih awal dari Candi Borobudur yang didirikan oleh Raja Samaratungga [sama-sama Wangsa Syailendra] pada 850 M. Candi Mendut terletak di Desa Mendut Kecamatan Mungkid Kabupaten Magelang, sekitar 8 Km sebelum Candi Borobudur. Candi dengan tinggi 26,4 M ini menghadap barat daya, memiliki 48 stupa kecil-kecil dan terdapat hiasan relief pada tubuh candi berupa pohon kalpataru. Di sebelah selatan candi terdapat pohon beringin tua yang selalu digunakan main ayunan oleh anak-anak. Sementara sebelah utara candi berupa lahan luas yang sering digunakan bermain sepak bola oleh warga sekitar. Inilah yang membedakan Candi Mendut dengan cagar budaya lainnya, yakni kebebasan menggunakan open space dalam kompleks candi untuk keperluan publik, yang tidak ditemukan di cagar budaya lain semisal di Borobudur maupun Prambanan. Meski