Nama ini bagi saya memang terasa tidak asing lagi, sebab beberapa kali saya menemukan dan membaca tulisan mengenai kawasan ini di blognya mas Andy MSE serta website resmi Sekolah Rakyat Kendal. Dan baru pada 21 Agustus 2010 kemarin saya berkesempatan mengunjungi kawasan yang sedang dikembangkan menjadi desa wisata tersebut. Banyuwindu adalah nama sebuah dusun yang berada di desa Limbangan, kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Adalah dusun (perkampungan) paling atas yang terdapat di sebelah barat pegunungan Ungaran. Karena keindahan alamnya serta banyaknya keanekaragaman hayati yang terdapat di sana maka tidak heran jika kawan-kawan Sekolah Rakyat bersama dengan warga dan perangkat desa berinisiasi untuk menjadikan kawasan Banyuwindu sebagai kawasan Desa Wisata Konservasi. Selama sehari semalam saya di sana memang tidak cukup untuk menikmati keindahan alam, apalagi untuk melihat keanekaragama hayatinya seperti kupu-kupunya, vegetasi (tanaman) yang cukup langka serta
Salah satu rangkaian acara Wisata Blogger 2009 di Wonosobo 24-25 Juli 2009 lalu adalah mengunjungi sentra batik Wonosobo. Pusat perbatikan ini berada di Talunombo Kecamatan Sapuran Kabupaten Wonosobo [sekitar 30 km sebelah tenggara Kota Kabupaten Wonosobo - lihat peta]. Dan disinilah satu-satunya kawasan alias pusatnya Batik Wonosobo. Namun, jangan berharap menemukan sebuah kawasan industri rumahan [home industry] yang bergeliat meriah dan dipenuhi oleh rumah-rumah megah ala sentra batik Solo maupun Pekalongan. Meskipun membatik bagi warga Talunombo ini sudah turun temurun akan tetapi karena keterbatasan kemampuan dan peralatan membatik maka para pembatik disini lebih senang membuat bahan mentah atau hanya membuat gambar pola batik saja dan kemudian dijual ke daerah Purworejo dan Magelang. Ibu Ngatun adalah salah satu dari para sekian banyak pembatik yang masih bertahan meski dengan serba terbatas. Kemampuan terbatas dan sarana produksi terbatas pula. Ditengah serba keterbatasan
Bagi masyarakat Solo Raya pasti sudah tidak asing lagi dengan nama Umbul Ingas atau orang biasa menyebutnya dengan Umbul Cokro, karena letak berada di Desa Cokro Kec. Tulung Kab. Klaten (tetanggaan dengan kecamatan tempatku lahir -Kec. Polanharjo- dan jaraknya cuman 5 Km aja dari rumah nenek-ku tempatku lahir). Umbul artinya adalah sumber air yang airnya keluar dari dalam tanah secara menyembur, karena airnya mumbul atau muncrat keatas maka orang-orang menyebutnya dengan istilah umbul. Air Umbul Ingas Cokro ini benar-benar jernih, bahkan dasar sungainya bisa kelihatan. Tidak salah apabila PDAM Kota Solo membelinya untuk dijual lagi ke masyarakat Kota Solo. Bahkan kejernihannya juga membuat perusahaan AMDK (Air Minum Dalam Kemasan) ngiler untuk ikut-ikutan ngalap berkah dan rejeki dari air Umbul Ingas ini. Setidaknya sekarang ada 2 (dua) perusahaan AMDK (1 level nasional dan 1 pemain lokal) yang membangun pabriknya disini. Kejernihan airnya dan sejuknya udara disini benar-benar