3 Oct 2009

Akhir-akhir ini di tlatah Ngayogjakarta Hadiningrat ada hal baru pada beberapa titik perempatan jalannya. Selain lampu-lampu bangjo-nya yang baru dan menggunakan tenaga surya alias solar cell, juga dengan beberapa kelompok pengamennya. Tak seperti biasa, bahwa pengamen hanya bermodalkan gitar kemudian hanya jreng-jreng tanpa menyanyi atau pakai kencringan berbahan tutup botol softdrink. Kini suasana perempatan di Jogja dimeriahkan dengan kehadiran kelompok pengamen yang bisa dikatakan lebih kreatif dan inovatif. Dengan berdandan busana adat Jawa lengkap ala kerajaan model Jawa Timuran kelompok ini menarikan beberapa tarian bagian dari tarian Jaran Edan dengan diiringi alat musik sederhana berupa kempul dan kenong saja. Mereka biasanya berkelompok lebih dari seorang. Satu orang mengiringi dengan alat musik, sedang yang lain menari. Durasi tarian biasanya tak lebih dari 20 detik, sisanya untuk keliling meminta saweran dari pengguna jalan yang sedang berhenti di perempatan jalan

14 Jun 2009

Abad 8 hingga 10 Masehi, ada sebuah peradaban di tlatah Jawa Tengah. Kerajaan Mataram Kuno, demikian orang menyebutnya sebagai pembeda dengan Mataram Islam (yang dianggap modern). Mataram Kuno merupakan peradaban yang bercorak Hindu dan Budha. Ada Mataram Hindhu dan Mataram Budha. Keduanya hidup berdampingan dengan damai. Mataram Hindu (Wangsa Sanjaya) dan Mataram Budha (Wangsa Syailendra), masing-masing memiliki pengikut dan peradaban. Keduanya, baik Wangsa Sanjaya maupun Wangsa Syailendra hidup berdampingan dengan damai dan penuh toleransi, sama-sama meninggalkan jejak peradaban berupa candi-candi yang tersebar diseantero Jawa Tengah (khususnya tlatah Klaten dan bhumi Magelang) dan Jogja. Wangsa Syailendra meninggalkan Candi Borobudur, Candi Mendut, Candi Pawon, Candi Ngawen serta candi-candi kecil yang banyak tersebar di bhumi Magelang. Sedangkan candi yang dibangun oleh Wangsa Sanjaya antara lain : Kompleks Gunung Dieng, Candi Kalasan, Candi Prambanan, Candi Rorojongrang, Candi

23 May 2009

Disela-sela perjalanan dinasnya menemani para mahasiswa-mahasiswinya, seorang janma manungso dari tlatah Jawa Timur, yang akrab disapa Kyai Slamet menyempatkan diri manjing di Joglo Abang, markas besar Gentayangan pada 18 Mei 2009 kemarin. Di Joglo Abang, sewaktu saya datang dari Magelang dengan berkuda telah hadir Mas Andy MSE, sang Blogger Nasional dan Kang Suryaden, Ki Demang Joglo Abang. Hujan gerimis cenderung deras yang mengguyur Jogjakarta tak menyurutkan niat saya untuk bertemu dengan Cendikiawan Muslim ini. Sayangnya, pakde Senoaji sang Tumenggung Joglo Abang tidak hadir karena sedang ngecas sambil ngeces di Bandung. Sekitar pukul 22.00 wib, Ki Demang Joglo Abang menculik Kyai Slamet dari kawasan Malioboro guna dihadapkan pada sidang Alim Blogger Timur Tengah ini. Ternyata, sosok Kyai Slamet memang cocok disebut sebagai Cendikiawan Muslim. Pengetahuannya luas, lulusan pesantren juga (meski sekedar pesantren kilat), dan sebagai Kyai sudah punya santri juga di pesantrennya

 Page 1 of 2  1  2 »
MixBloo designed by Bad Credit Loan Center In conjunction with Free Games , Geboortekaartjes , Printer Reviews.