Adalah agenda tahunan yang selalu ada disetiap menjelang hari raya Idul Fitri alias Lebaran, adalah banyak bertebaran para penjaja jasa penukaran uang baru. Hampir disemua kota ada yang beginian ini. Selama saya tinggal di Kota Solo, Disepanjang jalan Slamet Riyadi mulai dari kawasan Sriwedari hingga Gladak serta di Jalan Sudirman dari depan Kantor Pos hingga depan Balai Kota dan juga disepanjang Jalan Adi Sucipto dari kawasan Manahan hingga Jajar banyak money changer jalanan tersebut. Dan selama saya tinggal di Magelang, saya belum pernah menemui hal seperti ini. Belum banyak mereka yang menggelar jasa maupun dagangan uang baru tersebut di jalanan. Saya sempat bertanya ke beberapa tetangga karena di Magelang memang belum menganggap bahwa memberikan angpao Lebaran harus dengan uang baru. Memang beda daerah beda adat dan budaya. Di Solo hal tersebut telah menjadi budaya dan punya nilai prestisius yang lebih jika ngasih angpao dengan uang baru, sementara di Magelang masih belum.
Bagi wong Jawa, Tradisi Nyadran atau Sadranan adalah sebuah agenda tahunan yang selalu dilakukan setiap menjelang bulan Ramadhan. Yakni pada akhir bulan Sya’ban atau Ruwah.Ini merupakan budaya asli Jawa yang sudah berlangsung lama. Ketika para Wali Songo menyebarkan agama Islam mengakulturasikan budaya (ritual) yang berbau animisme dengan nuansa Islami. Tradisi nyadran merupakan simbol adanya hubungan dengan para leluhur, sesama manusia, dan Yang Mahakuasa atas segalanya. Nyadran merupakan sebuah pola ritual yang mencampurkan budaya lokal dan nilai-nilai Islam, sehingga sangat tampak adanya lokalitas yang masih kental islami. Sewaktu saya kecil dulu, saat masih tinggal bersama nenek saya di tlatah Klaten, nyadran selalu dilakukan di makam leluhur dan pepunden setelah sebelumnya bersama-sama membersihkan makam dan menaburkan bunga atau nyekar. Ketika saya berpindah ke kutha Solo, tradisi nyadran yang saya alami dan lihat adalah tidak dilakukan di makam melainkan dilakukan di
Kata Solo sudah akrab di telinga kita. Solo merupakan salah satu kota besar di Jawa Tengah juga Indonesia, terletak di jalur strategis transportasi darat yang menghubungkan Propinsi Jawa Timur dengan DIY. Dikenal sebagai kota Bengawan, bukan karena ada komunitas Bengawan, namun karena berada di tepian sungai. Bengawan dalam bahasa Jawa bermakna sungai. Juga dikenal sebagai Kota Budaya karena terdapat peninggalan budaya nusantara, selain keraton yang sampai sekarang masih berfungsi juga banyak peninggalan sastra budaya serta aneka seni budaya ada di sana. Dikenal pula sebagai Kota Batik, sebab batik mengakar dan membudaya di kota ini. Mulai dari proses hulu hingga hilir, mulai dari kain hingga kayu juga dibatik. Solo dikenal pula sebagai Kota Plesiran, sebab suasana malam kota ini syarat dengan plesiran terutama bagi mereka yang suka keplek ilat alias menyukai wisata kuliner. Dan Solo juga dikenal sebagai Kota Pergerakan, karena selain banyak diantara tokoh-tokoh pergerakan nasional