Candi Ngawen adalah salah satu dari sekian banyak candi yang bertebaran di Magelang. Namanya memang kalah kondang dengan Candi Borobudur maupun Candi Mendut. Candi ini sampai sekarang juga belum selesai dipugar. Para ahli arkoelogi masih mencari-cari bentuk awalnya, disamping masih mengais-ngais reruntuhan candi ini. Candi Ngawen terletak di desa Ngawen Kecamatan Muntilan. Persisnya berada 2 km sebelah selatan Kompleks Makam Kyai Raden Santri, Gunung Pring, dan sekitar 5 km sebelah timur Candi Mendut. Menurut perkiraan, candi ini dibangun semasa dengan Candi Borobudur yakni pada masa Wangsa Syailendra. Berbeda dengan candi-candi Budha lainnya, Candi Ngawen terdiri dari 5 (lima) buah candi kecil-kecil. Namun dari kelimanya baru satu candi yang utuh kembali, itupun tanpa atap. Candi yang menghadap ke timur ini berada ditepian Kali Blongkeng Muntilan, sebuah sungai yang dipercaya banyak mengandung belerang. Seperti pada candi Mendut, masing-masing candi disini dihiasi ornamen
Ayam sangat dekat dengan kehidupan dusun. Hampir setiap keluarga mempunyai piaraan ini. Disamping harganya murah, pemeliharaannya cukup praktis. Cukup dipanggil “kuuurr…kuuurrr..kuuur..” pasti mendekat karena saat itulah makanan sudah disajikan pemiliknya. Tlatah Bocah mengajak siapa saja untuk ikut berpartisipasi dalam program Beasiswa Merapi, 1 Anak 1 Ayam untuk anak-anak Merapi. Anak kelas 4 – 9 akan mendapatkan 1 ayam kampung indukan siap bertelur dan mereka akan memeliharanya. Hal ini mengajari anak untuk bertanggung jawab, merawat hewan dan menabung. Bagaimana caranya? Hibah paket 1 ayam + perawatannya Rp 150.000,- Partisipan sukarela mendonasikan sejumlah uang untuk program tersebut, Apabila donasi setiap partisipan kurang dari nilai tsb diatas, akan digabungkan dengan partisipan lain, Penerima hibah adalah anak-anak kelas 4 – 9 di lereng Gunung Merapi (ayam kampung indukan siap telur) dan ketua RT/kepala dusun setempat (1 ayam jantan) Pemberian hibah
Adalah agenda tahunan yang selalu ada disetiap menjelang hari raya Idul Fitri alias Lebaran, adalah banyak bertebaran para penjaja jasa penukaran uang baru. Hampir disemua kota ada yang beginian ini. Selama saya tinggal di Kota Solo, Disepanjang jalan Slamet Riyadi mulai dari kawasan Sriwedari hingga Gladak serta di Jalan Sudirman dari depan Kantor Pos hingga depan Balai Kota dan juga disepanjang Jalan Adi Sucipto dari kawasan Manahan hingga Jajar banyak money changer jalanan tersebut. Dan selama saya tinggal di Magelang, saya belum pernah menemui hal seperti ini. Belum banyak mereka yang menggelar jasa maupun dagangan uang baru tersebut di jalanan. Saya sempat bertanya ke beberapa tetangga karena di Magelang memang belum menganggap bahwa memberikan angpao Lebaran harus dengan uang baru. Memang beda daerah beda adat dan budaya. Di Solo hal tersebut telah menjadi budaya dan punya nilai prestisius yang lebih jika ngasih angpao dengan uang baru, sementara di Magelang masih belum.