Dalam rangkaian dolan ke Wisata Bahari Lamongan kemarin, saya dan kawan-kawan mengunjungi Tuban juga. Adalah Tahlil, Hio, Tuak. Ketiga hal itu seolah telah menyatu dengan Tuban, dan telah menjadi icon Tuban serta menjadi bagian dari kehidupan dan keseharian wong Tuban. Tuban, adalah salah satu kabupaten di Propinsi Jawa Timur yang terletak di pesisir utara Jawa alias Pantura. Luas wilayahnya mencapai lebih dari 1900 Km2 dengan memiliki panjang pantai sejauh 65 Km. Kadipaten ini telah ada sejak zaman Majapahit, peringatan hari jadi Tuban dihitung sejak pengangkatan Ranggalawe menjadi Adipati Tuban (12 November 1293). Keberadaan Makam Sunan Bonang yang berada di sebelah barat Masjid Agung Tuban, adalah situs yang sangat ramai dikunjungi para umat Islam untuk berziarah. Meskipun sampai saat ini masih menjadi misteri sebenarnya makam Sunan Bonang ada dimana, namun dari sekian banyak tempat yang ditengarai atau diklaim sebagai makam Sunan Bonang, di Tubanlah yang paling ramai diziarahi
Perjalanan menyusuri jalanan Magelang-Lamongan sejauh sekitar 300 Km selama hampir 7 jam, terbayar dengan kegembiraan dan kesenangan ketika mengunjungi WBL (Wisata Bahari Lamongan). Wahana wisata pantai dan dunia fantasi yang berada di bibir pantai kawasan Tanjung Kodok, Paciran Lamongan ini memang menarik dan menyenangkan. Agenda refresing yang memang tidak bertepatan dengan liburan ini adalah agenda dadakan yang digagas teman-teman kantor yang ingin melepas lelah setalah banyaknya aktivitas di kantor selama ini. Dengan mengambil rute Magelang-Boyolali-Solo-Sragen-Ngawi-Bojonegoro-Paciran (Lamongan) ditempuh selama hampir 7 jam perjalanan. Berangkat Rabu (13 Januari 2010) jam 8 pagi sampai di WBL sudah hampir jam 15, karena waktu sudah menjelang sore dan lokasi sudah hampir tutup (16.30 tutup) sehingga tidak akan bisa menggapai “orgasme” disana, maka diputuskan untuk putar balik menuju Bojonegoro untuk bermalam di rumah mertua saya, itung-itung makan malam dan sarapan