<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>kaum biasa &#187; Mataram Kuno</title>
	<atom:link href="http://kaumbiasa.com/tag/mataram-kuno/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kaumbiasa.com</link>
	<description>tansah migunani marang wong liya</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Feb 2012 08:00:11 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Candi Ngawen</title>
		<link>http://kaumbiasa.com/candi-ngawen.php</link>
		<comments>http://kaumbiasa.com/candi-ngawen.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Feb 2011 11:36:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ciwir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata]]></category>
		<category><![CDATA[Candi Ngawen]]></category>
		<category><![CDATA[Magelang]]></category>
		<category><![CDATA[Mataram Kuno]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kaumbiasa.com/?p=2122</guid>
		<description><![CDATA[<p>Candi Ngawen adalah salah satu dari sekian banyak candi yang bertebaran di Magelang. Namanya memang kalah kondang dengan Candi Borobudur maupun Candi Mendut.  Candi ini sampai sekarang juga belum selesai dipugar. Para ahli  arkoelogi masih mencari-cari bentuk awalnya, disamping masih  mengais-ngais reruntuhan candi ini.
Candi Ngawen terletak di desa Ngawen Kecamatan Muntilan. Persisnya berada 2 km sebelah selatan Kompleks Makam Kyai Raden Santri, Gunung Pring, dan sekitar 5 km sebelah timur Candi Mendut. Menurut perkiraan, candi ini dibangun semasa dengan Candi Borobudur yakni pada masa Wangsa Syailendra. Berbeda dengan candi-candi Budha  lainnya, Candi Ngawen terdiri dari 5 (lima) buah candi kecil-kecil.  Namun dari kelimanya baru satu candi yang utuh kembali, itupun tanpa  atap.
Candi yang menghadap ke timur ini berada ditepian Kali Blongkeng  Muntilan, sebuah sungai yang dipercaya banyak mengandung belerang.  Seperti pada candi Mendut,  masing-masing candi disini dihiasi ornamen</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Candi Ngawen adalah salah satu dari sekian banyak candi yang bertebaran di Magelang. Namanya memang kalah kondang dengan Candi Borobudur maupun Candi Mendut.  Candi ini sampai sekarang juga belum selesai dipugar. Para ahli  arkoelogi masih mencari-cari bentuk awalnya, disamping masih  mengais-ngais reruntuhan candi ini.
Candi Ngawen terletak di desa Ngawen Kecamatan Muntilan. Persisnya berada 2 km sebelah selatan Kompleks Makam Kyai Raden Santri, Gunung Pring, dan sekitar 5 km sebelah timur Candi Mendut. Menurut perkiraan, candi ini dibangun semasa dengan Candi Borobudur yakni pada masa Wangsa Syailendra. Berbeda dengan candi-candi Budha  lainnya, Candi Ngawen terdiri dari 5 (lima) buah candi kecil-kecil.  Namun dari kelimanya baru satu candi yang utuh kembali, itupun tanpa  atap.
Candi yang menghadap ke timur ini berada ditepian Kali Blongkeng  Muntilan, sebuah sungai yang dipercaya banyak mengandung belerang.  Seperti pada candi Mendut,  masing-masing candi disini dihiasi ornamen</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kaumbiasa.com/candi-ngawen.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dibalik Keajaiban Candi Borobudur</title>
		<link>http://kaumbiasa.com/dibalik-keajaiban-candi-borobudur.php</link>
		<comments>http://kaumbiasa.com/dibalik-keajaiban-candi-borobudur.php#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Jul 2010 06:35:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ciwir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kabar]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata]]></category>
		<category><![CDATA[Candi Borobudur]]></category>
		<category><![CDATA[Kemiskinan di Borobudur]]></category>
		<category><![CDATA[Magelang]]></category>
		<category><![CDATA[Mataram Kuno]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kaumbiasa.com/?p=1811</guid>
		<description><![CDATA[<p>Candi Borobudur memang sudah kondang kaloka sak nuswantoro lan monconagoro. Sebuah candi yang berdiri di kawasan yang sekarang ini masuk dalam wilayah administratif Kecamatan Borobudur Kab Magelang Jawa Tengah, adalah sebuah bangunan suci agama Budha yang dibangun pada masa Mataram Kuno dibawah pemerintahan Dinasti Syailendra. Berdasarkan tulisan yang terdapat pada “kaki” tertutup dari Candi Borobudur yang berbentuk huruf Jawa kuno yang berasal dari huruf pallawa, diperkirakan tahun berdirinya candi tersebut pada tahun 850 Masehi.
Namun ternyata dibalik Keajaiban dan kemegahan Candi Borobudur ada beberapa hal yang menurut saya cukup tragis bagi wong Magelang. Dan selama ini mungkin hal-hal tersebut sudah banyak diketahui khalayak umum secara luas, atau mungkin juga belum banyak yang tahu. Hal-hal tersebut antara lain adalah :
(1) Banyak wong Magelang yang belum pernah masuk ke kawasan Candi Borobudur tersebut. Dari beberapa kali ngobrol-ngobrol, kebanyakan mereka menyebutkan</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Candi Borobudur memang sudah kondang kaloka sak nuswantoro lan monconagoro. Sebuah candi yang berdiri di kawasan yang sekarang ini masuk dalam wilayah administratif Kecamatan Borobudur Kab Magelang Jawa Tengah, adalah sebuah bangunan suci agama Budha yang dibangun pada masa Mataram Kuno dibawah pemerintahan Dinasti Syailendra. Berdasarkan tulisan yang terdapat pada “kaki” tertutup dari Candi Borobudur yang berbentuk huruf Jawa kuno yang berasal dari huruf pallawa, diperkirakan tahun berdirinya candi tersebut pada tahun 850 Masehi.
Namun ternyata dibalik Keajaiban dan kemegahan Candi Borobudur ada beberapa hal yang menurut saya cukup tragis bagi wong Magelang. Dan selama ini mungkin hal-hal tersebut sudah banyak diketahui khalayak umum secara luas, atau mungkin juga belum banyak yang tahu. Hal-hal tersebut antara lain adalah :
(1) Banyak wong Magelang yang belum pernah masuk ke kawasan Candi Borobudur tersebut. Dari beberapa kali ngobrol-ngobrol, kebanyakan mereka menyebutkan</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kaumbiasa.com/dibalik-keajaiban-candi-borobudur.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>109</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Candi Asu</title>
		<link>http://kaumbiasa.com/candi-asu.php</link>
		<comments>http://kaumbiasa.com/candi-asu.php#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Sep 2009 03:25:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ciwir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata]]></category>
		<category><![CDATA[Candi Asu]]></category>
		<category><![CDATA[Ketep Pass]]></category>
		<category><![CDATA[Magelang]]></category>
		<category><![CDATA[Mataram Kuno]]></category>
		<category><![CDATA[Wangsa Sanjaya]]></category>
		<category><![CDATA[wisata magelang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kaumbiasa.com/?p=872</guid>
		<description><![CDATA[<p>Candi Asu Sengi adalah sebuah candi peninggalan Mataram Kuno dari trah Wangsa Sanjaya (Mataram Hindu). Berada di lereng Gunung Merapi sebelah barat di tepian Sungai Pabelan, tepatnya di desa Sengi, Kec. Dukun Kab Magelang, atau sekitar 5 Km dari Ketep Pass ke arah selatan (menuju arah kota Muntilan), tidak jauh dari Jalur SSB.
Nama Candi Asu sebenarnya baru diberikan oleh masyarakat sekitar sewaktu candi ini pertama kali ditemukan. Nama sebenarnya (nama waktu dulu dibangun) belum diketahui secara pasti.
Nama Candi Asu diberikan karena sewaktu pertama kali ditemukan ada sebuah patung Lembu Nandhi yang wujudnya telah rusak dan lebih mirip menyerupai Asu [Anjing] maka warga menyebutnya dengan Candi Asu. Dari beberapa prasasti yang ditemukan di candi tersebut, diantaranya Prasasti Sri Manggal I (874 M) dan Sri Manggala II (876 M) serta Prasasti Kurambitan maka diperkirakan candi ini dibangun pada sekitar tahun 869 Masehi (semasa Rakai Kayuwangi).
Candi Asu berdiri menghadap ke arah</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Candi Asu Sengi adalah sebuah candi peninggalan Mataram Kuno dari trah Wangsa Sanjaya (Mataram Hindu). Berada di lereng Gunung Merapi sebelah barat di tepian Sungai Pabelan, tepatnya di desa Sengi, Kec. Dukun Kab Magelang, atau sekitar 5 Km dari Ketep Pass ke arah selatan (menuju arah kota Muntilan), tidak jauh dari Jalur SSB.
Nama Candi Asu sebenarnya baru diberikan oleh masyarakat sekitar sewaktu candi ini pertama kali ditemukan. Nama sebenarnya (nama waktu dulu dibangun) belum diketahui secara pasti.
Nama Candi Asu diberikan karena sewaktu pertama kali ditemukan ada sebuah patung Lembu Nandhi yang wujudnya telah rusak dan lebih mirip menyerupai Asu [Anjing] maka warga menyebutnya dengan Candi Asu. Dari beberapa prasasti yang ditemukan di candi tersebut, diantaranya Prasasti Sri Manggal I (874 M) dan Sri Manggala II (876 M) serta Prasasti Kurambitan maka diperkirakan candi ini dibangun pada sekitar tahun 869 Masehi (semasa Rakai Kayuwangi).
Candi Asu berdiri menghadap ke arah</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kaumbiasa.com/candi-asu.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>37</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Toleransi Ala Mataram Kuno</title>
		<link>http://kaumbiasa.com/mataram-kuno.php</link>
		<comments>http://kaumbiasa.com/mataram-kuno.php#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Jun 2009 16:25:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ciwir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Candi Borobudur]]></category>
		<category><![CDATA[Candi Kalasan]]></category>
		<category><![CDATA[Candi Mendut]]></category>
		<category><![CDATA[Candi Plaosan]]></category>
		<category><![CDATA[Jogja]]></category>
		<category><![CDATA[Klaten]]></category>
		<category><![CDATA[Magelang]]></category>
		<category><![CDATA[Mataram Kuno]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kaumbiasa.com/?p=621</guid>
		<description><![CDATA[<p>Abad 8 hingga 10 Masehi, ada sebuah peradaban di tlatah Jawa Tengah. Kerajaan Mataram Kuno, demikian orang menyebutnya sebagai pembeda dengan Mataram Islam (yang dianggap modern). Mataram Kuno merupakan peradaban yang bercorak Hindu dan Budha. Ada Mataram Hindhu dan Mataram Budha. Keduanya hidup berdampingan dengan damai. Mataram Hindu (Wangsa Sanjaya) dan Mataram Budha (Wangsa Syailendra), masing-masing memiliki pengikut dan peradaban.
Keduanya, baik Wangsa Sanjaya maupun Wangsa Syailendra hidup berdampingan dengan damai dan penuh toleransi, sama-sama meninggalkan jejak peradaban berupa candi-candi yang tersebar diseantero Jawa Tengah (khususnya tlatah Klaten dan bhumi Magelang) dan Jogja.
Wangsa Syailendra meninggalkan Candi Borobudur, Candi Mendut, Candi Pawon, Candi Ngawen serta candi-candi kecil yang banyak tersebar di bhumi Magelang. Sedangkan candi yang dibangun oleh Wangsa Sanjaya antara lain : Kompleks Gunung Dieng, Candi Kalasan, Candi Prambanan, Candi Rorojongrang, Candi</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Abad 8 hingga 10 Masehi, ada sebuah peradaban di tlatah Jawa Tengah. Kerajaan Mataram Kuno, demikian orang menyebutnya sebagai pembeda dengan Mataram Islam (yang dianggap modern). Mataram Kuno merupakan peradaban yang bercorak Hindu dan Budha. Ada Mataram Hindhu dan Mataram Budha. Keduanya hidup berdampingan dengan damai. Mataram Hindu (Wangsa Sanjaya) dan Mataram Budha (Wangsa Syailendra), masing-masing memiliki pengikut dan peradaban.
Keduanya, baik Wangsa Sanjaya maupun Wangsa Syailendra hidup berdampingan dengan damai dan penuh toleransi, sama-sama meninggalkan jejak peradaban berupa candi-candi yang tersebar diseantero Jawa Tengah (khususnya tlatah Klaten dan bhumi Magelang) dan Jogja.
Wangsa Syailendra meninggalkan Candi Borobudur, Candi Mendut, Candi Pawon, Candi Ngawen serta candi-candi kecil yang banyak tersebar di bhumi Magelang. Sedangkan candi yang dibangun oleh Wangsa Sanjaya antara lain : Kompleks Gunung Dieng, Candi Kalasan, Candi Prambanan, Candi Rorojongrang, Candi</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kaumbiasa.com/mataram-kuno.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>72</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Candi Plaosan</title>
		<link>http://kaumbiasa.com/candi-plaosan.php</link>
		<comments>http://kaumbiasa.com/candi-plaosan.php#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Mar 2009 11:11:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ciwir</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata]]></category>
		<category><![CDATA[Candi Plaosan]]></category>
		<category><![CDATA[Desa Plaosan]]></category>
		<category><![CDATA[Klaten]]></category>
		<category><![CDATA[Mataram Kuno]]></category>
		<category><![CDATA[Plaosan]]></category>
		<category><![CDATA[Prambanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kaumbiasa.com/?p=385</guid>
		<description><![CDATA[<p>Candi Plaosan demikian candi ini disebut, karena berada di Dusun Plaosan Desa Bugisan Kec. Prambanan Kab. Klaten. Memang candi ini tidak sekondang Candi Prambanan maupun Candi Borobudur yang sudah kondang kaloka sak nuswantoro itu. Meski sama-sama dibangun pada masa Mataram Kuno.
Candi Plaosan adalah sebuah candi yang dibangun oleh Rakai Pikatan  pada abad ke-9. Candi dengan arsitektur perpaduan Budha-Hindu ini diperuntukkan buat sang Prameswari, Sri Pramurdyawardani. Candi Plaosan terbagi menjadi 2 yakni Candi Plaosan Lor dan Candi Plaosan Kidul.

Candi Plaosan Lor, terdiri dari candi induk dan candi perwara (pendamping) dan juga stupa-stupa perwara. Setiap candi mempunyai 6 ruangan yang terbagi dalam 2 tingkat.
Di ruangan di lantai bawah terdapat patung Buddha yang terbuat dari tembaga, [tetapi sekarang sudah hilang], yang dikelilingi oleh dua patung Bodhisattva. Relief di tembok menggambarkan pemberian ajaran agama budha.  Benda-benda yang disucikan pada jamannya diletakkan di</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Candi Plaosan demikian candi ini disebut, karena berada di Dusun Plaosan Desa Bugisan Kec. Prambanan Kab. Klaten. Memang candi ini tidak sekondang Candi Prambanan maupun Candi Borobudur yang sudah kondang kaloka sak nuswantoro itu. Meski sama-sama dibangun pada masa Mataram Kuno.
Candi Plaosan adalah sebuah candi yang dibangun oleh Rakai Pikatan  pada abad ke-9. Candi dengan arsitektur perpaduan Budha-Hindu ini diperuntukkan buat sang Prameswari, Sri Pramurdyawardani. Candi Plaosan terbagi menjadi 2 yakni Candi Plaosan Lor dan Candi Plaosan Kidul.

Candi Plaosan Lor, terdiri dari candi induk dan candi perwara (pendamping) dan juga stupa-stupa perwara. Setiap candi mempunyai 6 ruangan yang terbagi dalam 2 tingkat.
Di ruangan di lantai bawah terdapat patung Buddha yang terbuat dari tembaga, [tetapi sekarang sudah hilang], yang dikelilingi oleh dua patung Bodhisattva. Relief di tembok menggambarkan pemberian ajaran agama budha.  Benda-benda yang disucikan pada jamannya diletakkan di</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kaumbiasa.com/candi-plaosan.php/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>53</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

