Setiap memasuki bulan Ramadhan, waktu kecil saya dulu (saat sekolah SD dan SMP), selalu nyumet long bumbung (meriam dari bambu). Meskipun permainan ini tergolong cukup membahayakan karena menggunakan api, namun permainan ini cukup menyenangkan sambil menunggu waktu buka puasa atau pun untuk memeriahkan malam sehabis tarawih. Cara membuat Long bumbung cukup mudah. Bahan baku utamanya adalah bambu dengan panjang sekitar 2 meter dan diameter yang cukup besar (sekitaran 15cm). Setelah itu, pada setiap ros-rosan bambu tersebut harus dilubangi, kecuali ros-rosan terakhir dibiarkan saja sebab untuk menempatkan minyak tanah dan hanya diberi sedikit lubang pada bagian atasnya untuk menyalakan meriam tersebut. Jika semua sudah selesai dipersiapkan maka long bumbung sudah siap dinyalakan. Dulu saya dan teman-teman menyalakan long bumbung dengan cara berjajar di tepian sungai. yang tak jauh dari aliran Umbul Cokro, Klaten. Dan selalu dibagi 2 (dua) kelompok yang posisinya saling
Sedikit urusan kerjaan mengharuskan saya harus mengunjungi Solo Raya. Dan ini membawa konsekuensi juga bahwa Rama Maheswara Az Zahirul Haq ikut pula ke Solo sekalian guna menengok Eyang putrinya yang ada di tlatah Makamhaji Kartasura Solo. Setelah urusan saya selesai, pada hari Minggu (13/12/2009) saya mengajak Rama jalan-jalan ke tlatah Klaten, tepatnya di Dusun Nglungge Desa Sidowayah Kec. Polanharjo Kab. Klaten, sekitar 5 Km sebelah timur (sebelumnya jika dari arah Solo) Kawasan Pemancingan Janti Klaten. Kami kesana untuk mengunjungi rumah Eyang Buyutnya Rama, yang juga tempat dimana saya dilahirkan. Rumah itu telah hampir 15 tahun tidak dihuni sejak Eyang Buyutnya Rama wafat. Rumah itu sudah menjadi hak miliknya pakde (kakaknya bapak saya), tapi karena beliau juga sudah memiliki rumah sendiri dan anak-anaknya tidak mau menempati ya akhirnya dibiarkan kosong tak berpenghuni. Dulu saya mulai lahir hingga remaja tinggal disini menemani mbah putri yang sendirian. Namun sejak