Jika pada usia 6 bulan Rama hanya mengonsumsi makanan berupa bubur yg lembut selain ASI, maka mulai Rama berusia 8 bulan telah mulai mengonsumsi bubur “kasar”. Sebagaimana waktu masih makan bubur halus, dalam mengonsumsi bubur kasar tersebut adalah made in istri saya sendiri. Dari dulu memang tidak pernah dikasih makanan instan, biar aman kata istri saya. Bubur yang menjadi menu sehari-hari mas Rama saat ini bahan dasar beras dengan diberikan kaldu ayam/sapi ditambah dengan sayuran dan sedikit buah-buahan. Berikut ini saya akan mencoba sedikit berbagi proses pembuatannya, siapa tahu berguna dan bermanfaat bagi sampeyan-sampeyan semua. Sebenarnya pembuatannya sangat mudah dan tidak butuh waktu lama serta biaya yang murah. Pertama-tama menyiapkan bahan kaldunya, dapat dari ceker ayam kampung atau balungan sapi yang dipotong dan sedikit ditumbuk atau orang Jawa bilang digecek agar sumsumnya dapat keluar sewaktu direbus. Kedua, rebus bahan kaldu tersebut dalam air hingga
Awal Nopember 2009 lalu, bapa lan biyung mertua berkunjung ke Magelang. Jauh-jauh dari Bojonegoro karena kengen sama putune lanang kang ajejuluk Rama Maheswara Az-Zahirul Haq. Karena sudah sampai bhumi Tidar kurang afdhol jika nggak berkunjung ke Candi Borobudur yang katanya ajaib itu. Memang, candi Borobudur tak jauh dari tempatku tinggal, kira-kira tak lebih dari 10 Km. Akhirnya, Selasa jam 7 pagi kami budhal menuju Borobudur. Memilih pagi hari agar tidak terlalu panas dan masih sepi serta saya jam 9 sudah harus ngantor. Candi Borobudur adalah bukti bangsa ini, khususnya wong Jawa, adalah bangsa yang jenius. Pada abad 9 Masehi dapat membangun sebuah candi besar dari konstruksi batu-batuan tanpa dukungan alat-alat modern. Tentang keajaiban Candi Borobudur dapat sampeyan simak disini. Selama tinggal di Magelang selama 5 hari, rumahku yang mungil itu menjadi penuh sesak. Meski demikian semua senang. Sang Rama senang karena ada adik sepupunya, Ale, yang berumur 4 tahun juga ikut. Dia
Dalam rangka memenuhi niatan saya jika anak saya lahir selamat dan sehat, saya akan menyembelih seekor kambing maka pada hari Jumat Wage, 10 Juli 2009, saya melaksanakan janji tersebut. Acara syukuran tersebut sengaja saya laksanakan di bhumi Tidar, Magelang, sebagai wujud rasa syukur dan berbagi bersama teman-teman. Karena saya telah menetap di bhumi Tidar telah hampir 5 tahun ini Acara ini dihadiri ratusan orang dari berbagai kalangan. Diantaranya teman-teman yang tergabung dalam FORLISMA (Forum Lintas Sektoral Magelang) yang merupakan jaringan kerja dari kalangan buruh, petani, pemuda, diffabel, posyandu, dll. Para aggota dan kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Magelang. Juga hadir dalam acara adalah teman-teman Pendekar Tidar (Komunitas Blogger Magelang) serta kawan-kawan Joglo Abang Community, serta pemuka-pemuka masyarakat Kab Magelang dan juga teman-teman dari birokrasi Pemda Kabupaten Magelang plus rekan-rekan kerja tentunya. Sedianya Ketua DPRD Kab Magelang