Kota Mungkid, demikian orang-orang Kabupaten Magelang menyebutnya. Adalah sebuah kawasan yang digunakan untuk pusat pemerintahan Kabupaten Magelang setelah pada tahun 1984 dipindahkan dari Kota Magelang. Kawasan Kota Mungkid sendiri berada di kelurahan Sawitan Kecamatan Mungkid, dan sebagian wilayah Kecamatan Mertoyudan. Kepindahan pusat pemerintahan 26 tahun lalu itulah yang menjadi dasar ditentukannya peringatan HUT Kota Mungkid, sedangkan HUT Kabupaten Magelang sendiri tidak ada. Sebenarnya usia Magelang sudah relatif tua, yakni lebih dari 1100 tahun. Perhitungannya adalah berdasarkan angka tahun pada Prasasti Mantiyasih yang ditulis diatas lempengan tembaga, pada zaman Mataram Kuno (Hindhu) saat pemerintahan Raja Rakai Watukura Dyah Balitung (898-910 M). Dimana didalam prasasti ini disebut-sebut adanya Desa Mantyasih dan nama Desa Glang-glang. Mantyasih inilah yang kemudian berubah menjadi Meteseh, sedangkan Glang-glang berubah menjadi Magelang. Dasar perhitungan tersebut
Ketika ada budaya aset bangsa semisal Reog Ponorogo, diklaim bangsa lain teriak-teriak. Ketika Angklung diambil orang sama-sama teriak. Pada saat Lagu Rasa Sayange dijadikan budaya orang maka semua protes. Sewaktu Ketupat dijadikan makanan khas negara lain semua pada teriak. Padahal keseharian kita apakah mau memainkan alat musik Angklung itu, jangankan memainkan mendengar saja tidak mau. Sehari-hari lagu-lagu pop dan lagu barat menjadi menu pokok yang diperdengarkan. Orang-orang lebih merasa gengsi jika memakai baju merek impor daripada pakai Batik bikinan UKM dekat rumah. Lebih suka makan Pizza daripada makan Ketupat adalah jawaban ketika ditanya apa makanan favorit kita. Dan lebih suka melihat tarian Samba daripada menonton Reog Ponorogo. Kita juga lebih bangga menggunakan bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia, biar kelihatan keren dan modern katanya. Itulah yang terjadi dengan bangsa ini. Ketika ada yang menganggap itu budaya mereka maka bangsa ini berteriak. Protes