Kata Solo sudah akrab di telinga kita. Solo merupakan salah satu kota besar di Jawa Tengah juga Indonesia, terletak di jalur strategis transportasi darat yang menghubungkan Propinsi Jawa Timur dengan DIY. Dikenal sebagai kota Bengawan, bukan karena ada komunitas Bengawan, namun karena berada di tepian sungai. Bengawan dalam bahasa Jawa bermakna sungai. Juga dikenal sebagai Kota Budaya karena terdapat peninggalan budaya nusantara, selain keraton yang sampai sekarang masih berfungsi juga banyak peninggalan sastra budaya serta aneka seni budaya ada di sana. Dikenal pula sebagai Kota Batik, sebab batik mengakar dan membudaya di kota ini. Mulai dari proses hulu hingga hilir, mulai dari kain hingga kayu juga dibatik. Solo dikenal pula sebagai Kota Plesiran, sebab suasana malam kota ini syarat dengan plesiran terutama bagi mereka yang suka keplek ilat alias menyukai wisata kuliner. Dan Solo juga dikenal sebagai Kota Pergerakan, karena selain banyak diantara tokoh-tokoh pergerakan nasional
Gambar tanda tanya (?) dengan tulisan SOCIALIST dan dibawahnya bertebaran logo berbagai macam jejaring sosial seperti Plurk, Twitter, Facebook, Blogger, Wordpress DLL pada sebuah kaos yang dikenakan oleh kawan Mursid saat acara Sharing Offline Lan Online (SOLO) yang dihelat oleh Komunitas Blogger Bengawan, menarik perhatian saya. Kata Socialist alias Sosialis menurut kamus online yang saya temukan adalah : Penggunaan istilah sosialisme sering digunakan dalam berbagai konteks yang berbeda-beda oleh berbagai kelompok, tetapi hampir semua sepakat bahwa istilah ini berawal dari pergolakan kaum buruh industri dan buruh tani pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20 berdasarkan prinsip solidaritas dan memperjuangkan masyarakat egalitarian yang dengan sistem ekonomi menurut mereka dapat melayani masyarakat banyak daripada hanya segelintir elite. (Sumber Wikipedia). Namun setelah melihat tulisan kaosnya Mas Mursid tersebut saya jadi punya definisi tentang kata Socialist (Sosialis), yakni
Di kota-kota besar kemacetan dan keruwetan lalu lintas sudah menjadi pandangan yang lazim mana-mana. Bagi sebagian orang ini merupakan hambatan dalam meraih rejeki. Namun bagi sebagian yang lain ini adalah lahan rejeki, dengan menjadi pengatur lalu lintas guna mendapatkan sedikit rejeki dari pengguna jalan. Dan di beberapa kota para ‘pak ogah’ ini mulai ditertibkan. Ada yang dilarang beroperasi, tapi ada pula yang dibina dan dijadikan sukarelawan pengatur lalu lintas alias SUPELTAS. Sewaktu tempo hari pulang ke Solo, saya melihat banyak ‘pak ogah’ yang sudah berseragam berupa rompi hijau menyala dengan tulisan SUPELTAS. Iseng-iseng saya mendatangi salah satunya yang di perempatan Baron (persimpangan Jalan Bhayangkara dan Dr Radjiman). Ngobrol-ngobrol sebentar dengan mereka menjadikan saya tahu bahwa dulunya ia memang seorang ‘polisi cepek’, namun beberapa waktu lalu para ‘polisi cepek’ ini oleh Kepolisian Kota Solo dibina. Dikasih