Setiap memasuki bulan Ramadhan, waktu kecil saya dulu (saat sekolah SD dan SMP), selalu nyumet long bumbung (meriam dari bambu). Meskipun permainan ini tergolong cukup membahayakan karena menggunakan api, namun permainan ini cukup menyenangkan sambil menunggu waktu buka puasa atau pun untuk memeriahkan malam sehabis tarawih. Cara membuat Long bumbung cukup mudah. Bahan baku utamanya adalah bambu dengan panjang sekitar 2 meter dan diameter yang cukup besar (sekitaran 15cm). Setelah itu, pada setiap ros-rosan bambu tersebut harus dilubangi, kecuali ros-rosan terakhir dibiarkan saja sebab untuk menempatkan minyak tanah dan hanya diberi sedikit lubang pada bagian atasnya untuk menyalakan meriam tersebut. Jika semua sudah selesai dipersiapkan maka long bumbung sudah siap dinyalakan. Dulu saya dan teman-teman menyalakan long bumbung dengan cara berjajar di tepian sungai. yang tak jauh dari aliran Umbul Cokro, Klaten. Dan selalu dibagi 2 (dua) kelompok yang posisinya saling
Bagi masyarakat Solo Raya pasti sudah tidak asing lagi dengan nama Umbul Ingas atau orang biasa menyebutnya dengan Umbul Cokro, karena letak berada di Desa Cokro Kec. Tulung Kab. Klaten (tetanggaan dengan kecamatan tempatku lahir -Kec. Polanharjo- dan jaraknya cuman 5 Km aja dari rumah nenek-ku tempatku lahir). Umbul artinya adalah sumber air yang airnya keluar dari dalam tanah secara menyembur, karena airnya mumbul atau muncrat keatas maka orang-orang menyebutnya dengan istilah umbul. Air Umbul Ingas Cokro ini benar-benar jernih, bahkan dasar sungainya bisa kelihatan. Tidak salah apabila PDAM Kota Solo membelinya untuk dijual lagi ke masyarakat Kota Solo. Bahkan kejernihannya juga membuat perusahaan AMDK (Air Minum Dalam Kemasan) ngiler untuk ikut-ikutan ngalap berkah dan rejeki dari air Umbul Ingas ini. Setidaknya sekarang ada 2 (dua) perusahaan AMDK (1 level nasional dan 1 pemain lokal) yang membangun pabriknya disini. Kejernihan airnya dan sejuknya udara disini benar-benar